Mau Pasang Iklan, Hub Biro Iklan, Aulia Advertising, Telp 0813 8468 1151
Aulia PROPERTY,MEMASARKAN BALE PERIGI, PURI SINAR PAMULANG, PESONA ALAM CIPUTAT, CLUSTER Tsb Ready Stock Telp 081384681151

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 0856 7386 103, 0813 8468 1151

Minggu, 24 Desember 2017

Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat

Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat

Penyakit yang melanda syaikh Ibnu Utsaimin

Dahulu, syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- pernah berkata kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid -hafidzahullah-:

“Ketika aku merasakan sakit pada tubuhku, aku mengira bahwa itu adalah sakit basur (wasir). Dan dulu, aku pernah melakukan operasi untuk penyakit ini sehingga aku kira bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sama. Ketika rasa sakit semakin bertambah, aku kembali ke Rumah Sakit dan aku juga ingin memeriksa mataku karena aku merasakan perih pada mataku. Maka para dokter melakukan analisa dan pengecekan, kemudian mereka mengabariku bahwa aku terkena kanker.”

Dan syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menamai kanker dengan ‘Al-Maradhul Khatir (Penyakit berbahaya)’ dan tidak mau menamainya dengan ‘Al-Maradhul Khabits (Penyakit yang buruk)’. Dan sudah diketahui, bahwa orang-orang arab menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata ketika enggan menamai kenkar dengan Al-Maradhul Khabits karena:

ليس في أفعال الله خبيثا

“Tidak ada yang buruk pada perbuatan-perbuatan Allah”.

Dan pemberian penyakit dan penyembuhannya hanyalah kuasa Allah dan perbuatanNya saja.

Syaikh Al-Munajjid bertanya kepada syaikh Ibnu Utsaimin mengenai penyakit itu setelah beberapa saat, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:

يأتي ويذهب إلا في موضع المرض الأصلي الذي انتشر منه فإنه مستمر

“Rasa sakitnya datang dan pergi kecuali rasa sakit yang ada di bagian asal penyakit tersebut. Maka rasa sakitnya terus terasa di bagian itu”

Walau beliau sakit kanker, namun mengajar dan memberi fatwa selalu beliau lakoni.

Kesabaran syaikh Ibnu Utsaimin menahan penyakit kanker

Sebagian murid syaikh Ibnu Utsaimin memerhatikan ketika beliau mengajar, kerap kali beliau mengangkat suara seperti orang yang dicambuk, namun beliau tetap menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Dan syaikh Ibnu Utsaimin sangat enggan untuk diberi obat penenang, karena obat itu menjadikan beliau tidur akhirnya tidak dapat shalat malam dan mengajar.

Dan syaikh Ibnu Utsaimin memeliki angan-angan sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian masyaikh, bahwa beliau berkata:

أريد أن أموت قريبا من الكعبة وأنا أنشر العلم

“Aku ingin wafat dekat dengan ka’bah dalam keadaan mengajar ilmu”

Syaikh Ibnu Utsaimin berkeyakinan bahwa menyebarkan ilmu termasuk amalan terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Maka dari itu, pada tanggal 29 ramadhan ketika beliau di Mekkah, keletihan terus bertambah pada diri syaikh Ibnu Utsaimin. Maka dokter memutuskan agar syaikh Ibnu Utsaimin dibawa ke Jeddah untuk perawatan intensif. Namun keadaan beliau membaik ketika di waktu ashar. Dan syaikh Ibnu Utsaimin pun akhirnya meminta agar beliau dikembalikan ke Mekkah walaupun para dokter melarangnya. Syaikh Ibnu Utsaimin pun berkata:

لا تحرمونا هذا الأجر فهذه آخر ليلة من رمضان

“Jangan cegah aku untuk mendapatkan pahala ini. Karena sekarang adalah malam terakhir bulan ramadhan”.

Dan benar, syaikh Ibnu Utsaimin pun kembali ke Mekkah dengan pengawasan para dokter. Beliaupun masuk ke dalam ruangan khusus. Dan beliaupun minta air wudhu kemudian beliau shalat dan meminta izin agar bisa mengajar. Beliaupun akhirnya mengajar di malam terakhir bulan ramadhan.

Detik-detik wafatnya beliau

Ketika beliau terbangun dari koma, beliau langsung membaca Al-Quran dan dzikir. Dan akhir ayat yang beliau baca adalah:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ

“Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya” (QS. Al-Anfal: 11)

Ruh beliau pun dicabut pada jam setengan dua siang. Beliau wafat pada tanggal 15 syawwal 1421 H. Dan beliau dikuburkan di Mekkah dekat dengan guru beliau ‘syaikh bin Baaz’ -rahimahumallah-.

Karamah beliau

Orang-orang yang mencuci jenazah beliau melihat keindahan rupa beliau, dan mudahnya beliau dicuci dan dibersihkan, sampai mereka mengira bahwa syaikh Ibnu Utsaimin sudah dicuci sebelum dibawa ke tempat pengurusan jenazah.

Semoga Allah merahmati seluruh masyaikh kita dan guru-guru kita.

رحم الله الشيخ ابن عثيمين وأسكنه في الفردوس الأعلى

“Semoga Allah merahmati syaikh Ibn Utsaimin dan menempatkan beliau di surga Firdaus tertinggi”

Semoga kisah ini menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat dalam belajar, mengajar, dan beribadah kepada Allah.

Refrensi: Fath Dzii Al-Jalaal Wa Al-Ikram Li Ibn Utsaimiin 1/36

Diterjemahkan dengan sedikit perubahan oleh: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Sumber: http://www.alamiry.net/2017/12/kesabaran-syaikh-ibnu-utsaimin-ketika-sakit-hingga-wafat.html

MENGUCAPKAN NATAL.

MENGUCAPKAN NATAL.           

Sebagian orang menganggap ucapan natal itu tidaklah bermasalah, apalagi yang yang berpendapat demikian adalah mereka orang-orang kafir. Namun hal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim mengucapakan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang kafir tersebut.

Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan toleransi dalam beragama!?

Islam mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji. Tidak hanya perlakuan baik terhadap sesama muslim, namun juga kepada orang kafir. Bahkan seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah[60]: 8)

Namun hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bersikap toleransi dalam agama yang harus dilakukan oleh seorang muslim kepada orang-orang kafir. Sebagian orang menganggap bahwa mengucapkan ucapan selamat hari natal dan tahun baru adalah suatu bentuk perbuatan baik kepada orang-orang nashrani. Namun patut dibedakan antara berbuat baik (ihsan) kepada orang kafir dengan bersikap loyal (wala) kepada orang kafir

Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal

1- Bukan perayaan kaum muslimin.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri(HR.Ahmad, shahih).

Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.

2- Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal.

Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda.

Begitu juga dengan seorang muslim mengucapkan selamat natal dan tahun baru kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkan nya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Bagimu agamamu, bagiku agamaku.(QS. Al-Kafirun: 6)

Allah Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ  ۗ  وَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ  ۗ  اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَـنَّةَ وَمَأْوٰٮهُ النَّارُ  ۗ  وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharam kan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."(QS.Al-Ma'idah 5:Ayat 72)

3- Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru.

Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah.

Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan oarang kafir.
Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah[60]: 4)

4- Nabi melarang mendahului ucapan salam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.

5- Menyerupai orang kafir

Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal dan tahun baru. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum  muslimin untuk menyerupai kaum kafir.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Penutup.:Ketahuilah wahai kaum muslimin, perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar jika kita tidak mengetahuinya. Mengucap kan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat ulang tahun,selamat hari ibu dan lain-lain yang ada kaitannya dengan perayaan-perayaan bid'ah ), bagaimana lagi mengucap kan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih terlarang lagi.

Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus)

Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

 وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًا   ۖ   وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ

"Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah itu ada lah (hal yang) besar."(QS.An-Nuur 24: Ayat 15)

Semoga Bermanfa'at.

Kronologis kata "AHAD" diganti "MINGGU

Kronologis kata "AHAD" diganti "MINGGU

Alkisah; Sebelum Tahun 1960, tak pernah dijumpai nama hari yg bertuliskan "MINGGU" selalu tertulis hari "AHAD".

Begitu juga penanggalan di kalender tempo dulu,

 masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan "Minggu".
Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa dan terbudaya utk menyebut hari "AHAD" di dalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yg cukup lama.

- Bahkan telah menjadi ketetapan di dalam Bahasa Indonesia.

- Lalu mengapa kini sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu?

- Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya?

- Apa dasarnya ?

- Resmikah dan ada kesepakatankah?

Kita ketahui bersama bahwa nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum ke dalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu adalah dgn sebutan :

1. "Ahad" (al-Ahad = hari kesatu),

2. "Senin" (al-Itsnayn=hari kedua),

3. "Selasa" (al-Tsalaatsa' = hari ketiga)

4. "Rabu" (al-Arba'aa = hari keempat),

5. "Kamis" (al-Khamsatun = hari kelima),

6. "Jum'at" (al-Jumu'ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah),

7. "Sabtu" (as-Sabat=hari ketujuh).

Nama hari tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terpola di dalam semua kerajaan di Indonesia.

- Semua ini adalah karena jasa positif interaksi budaya secara elegan dan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab.

Sedangkan kata "MINGGU" diambil dari bahasa Portugis, "Domingo" (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti "Dia Do Senhor", atau "HARI TUHAN KITA").

=> Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini dieja sebagai "Dominggu" dan baru sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai "Minggu".

Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud "TUHAN KITA", bagi yg beribadah di hari minggu.

Bagaimana ini bisa terjadi?

- Ada yang mengatakan dengan dana yang cukup besar dari luar Indonesia, dibuat membiayai monopoli pencetakan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia.

- Percetakan dibayar agar menihilkan (0) kata "AHAD" diganti dengan "MINGGU".

- Setetah kalender jadi, lalu dibagikan secara gratis atau dijual obral (sangat murah).
Dampaknya adalah:

- Masyarakat Indonesia secara tak sadar, akhirnya kata Ahad telah terganti menjadi Minggu di dalam penanggalan Indonesia.

Pentingkah?
Jawabannya :

"SANGAT PENTING" untuk upaya mengembalikan kata "Ahad" .

Bagi umat Islam adalah penting, karena :

- Kata "Ahad" mengingatkan kepada nama "Allah عزوجل " yg Maha "Ahad" sama dengan "MahaTunggal"/ "Maha Satu" / "Maha Esa".

- "Allah" tidak beranak dan tidak diperanakkan

- Kata "Ahad" dalam Islam adalah sebagai bagian sifat "Allah عزوجل " yang penting dan mengandung makna utuh melambangkan "ke-Maha-Esa-an Allah عزوجل ".

Oleh karena itu :

- Mari kita ganti "MINGGU" menjadi "AHAD".

- Apabila dalam 7 (tujuh) hari biasa disebut "SEMINGGU", yang tepat adalah disebut dengan "SEPEKAN", dan bukan "minggu depan", tapi "pekan depan".

Semoga hari ini penuh berkah buat kita dan keluarga.

Amin Ya Robbal 'Alamin.

Share ke teman sebanyak-banyaknya,
Mari mulai sekarang kembalikanlah hari AHAD.

lupakanlah minggu. Mohon share di grup yang pesertanya hanya muslim. (By akhina fillah b s Ustadz Moh. Toha)

Link: http://bcwaw.blogspot.co.id/2017/12/kronologis-kata-ahad-diganti-minggu.html?m=1

AHMAD DHANI CUMA AWAL, GRAFIK AKAN TERUS NAIK, PANJI INI AKAN BERKIBAR LEBIH TINGGI. PERSIAPKAN DIRI KALIAN PARA 'KOMANDAN'

AHMAD DHANI CUMA AWAL, GRAFIK AKAN TERUS NAIK, PANJI INI AKAN BERKIBAR LEBIH TINGGI. PERSIAPKAN DIRI KALIAN PARA 'KOMANDAN'

Oleh : Karim Indonesia

Sepanjang Tahun 2017, grafik kecintaan Umat Islam terhadap Syariah dan Khilafah, berikut juga Panji Rasulullah, bukannya menurun. Bahkan, setelah persekusi terhadap gagasan Khilafah oleh Rezim Diktator, dan persekusi terhadap Panji Rasulullah oleh centeng-centengnya, grafik itu terus naik.

Berawal dari momentum kemunculan Panji Rasulullah (Ar Rayah) Raksasa pada Aksi Bela Islam 212 Tahun 2016 lalu.

Lalu dilanjutkan dengan bangkitnya para pendaki pecinta Ar Rayah, yang mengibarkan Ar Rayah di puncak-puncak gunung tertinggi Indonesia mulai Januari 2017 hingga akhir-akhir ini.

Lalu adanya aksi nasional Masirah Panji Rasulullah (Mapara) yang digagas oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Berupa sosialisasi Ar Rayah yang dilakukan di sejumlah tempat di Indonesia.

Setelah HTI dibubarkan paksa Rezim Diktator dan Ar Rayah dipersekusi dengan label fitnah Bendera HTI, bukannya menurun, grafik kecintaan tersebut terus mengalami kenaikan. Skenario rezim untuk membodohi Umat Islam menjadi blunder besar. Bukannya redup, seruan Syariah dan Khilafah terus menggema, berikut berkibarnya Ar Rayah.

Pada aksi menolak Perppu Ormas 24/10 lalu, sebanyak 9 Ar Rayah Raksasa dikibarkan oleh Umat Islam dari berbagai ormas.

Pada Reuni Akbar 212 lalu, 20 Ar Rayah Raksasa dibentangkan dan 5 di antaranya diestafetkan oleh jutaan Umat Islam.

Berpikir semuanya telah usai? Bahkan pada saat Menteri Agama Pembela LGBT manggung pada Aksi Bela Palestina 17/12 lalu, Al Liwa Raksasa dan Ar Rayah Raksasa berkibar-kibar dengan gagah. Dan masih, Umat Islam pula yang membentangkan dan mengestafetkan.

Pada penghujung tahun ini, musisi nasional Ahmad Dhani juga turut mempopulerkan Ar Rayah dalam video clipnya yang berjudul Iman.

Lalu saya mau bertanya sama kamu. Iya kamu, yang masih suka bilang Ar Rayah itu Bendera HTI.

Apakah jutaan Umat Islam pada Reuni Akbar 212 itu Anggota HTI semua?

Apakah jutaan Umat Islam pada Aksi Bela Palestina 17/12 yang minta Menag Pembela LGBT turun dari panggung juga itu Anggota HTI semua?

Apakah pendaki-pendaki pengibar Ar Rayah itu Anggota HTI semua?

Apakah aparat TNI dan Polri yang selfie pakai Ar Rayah itu juga Anggota HTI semua?

Lalu apakah Ahmad Dhani dan seluruh model yang mengibarkan Ar Rayah pada video clip nya itu juga Anggota HTI semua?

Anda Mau Jawab Iya? Maka Anda Mesti Berhati Hati Terhadap Anggota HTI. Sebab Mungkin Juga Anda Suatu Saat Akan Jatuh Hati. Karena Mereka Sudah Masuk Ke Semua Lini.

Anda Mau Jawab Bukan? Anda Mesti Lebih Berhati Hati Lagi. Berarti Pendukung HTI Itu Banyak. Kecuali Mungkin Pendukung Rezim Diktator dan LGBT Yang Setengah Mati Mau Meredupkan HTI.

Lalu Anda Mau Jawab Itu Bukan Bendera HTI? Lalu Bendera Apa Donk? Bendera Bajak Laut? Bendera ISIS?

Untuk Yang Entah Berapa Juta Kali Kami Sampaikan.

Dari Ibnu ‘abbas Ra Menuturkan, "Rayah Rasulullah Saw. Berwarna Hitam Dan Liwa’ Beliau Berwarna Putih."
(HR At-tirmidzi, Al-baihaqi, Ath-thabarani Dan Abu Ya’la).

Dari Ibnu Abbas Ra. Menuturkan, "Rayah Rasulullah Saw. Berwarna Hitam Dan Liwa’ Beliau Berwarna Putih; Tertulis Di Situ Lâ Ilâha Illa Allâh Muhammad Rasûlullâh."
(HR Abu Syaikh Al-ashbahani).

TAHUN 2018, GRAFIK MESTI TERUS NAIK

Bertolak dari realitas di atas. Maka tidak ada alasan untuk mengendurkan perjuangan dan menurunkan Ar Rayah setengah tiang.

Opini Syariah dan Khilafah mesti tetap berkobar. Ar Rayah masih mesti berkibar. Bukannya makin rendah, tapi makin tinggi. Ke bulan kalau perlu. Mungkin setelah Khilafah tegak nanti.

Proposal Kami Untuk Tahun 2018. Ar Rayah Mesti Dikibarkan Lebih Tinggi. Di Puncak Tertinggi Indonesia. Di Salah Satu Puncak Gunung Tertinggi Dunia.

Puncak Jaya, Carstensz Pyramid 4.884 MDPL.

Pengibaran Yang Akan Menjadi Opini Nasional Dan Internasional.

Pengibaran Yang Akan Memicu Gelombang Pengibaran Di 6 Puncak Tertinggi Dunia Lainnya.

Pengibaran Yang Akan Membangkitkan Semangat Dan Moral Para Pemuda Pencinta Panji Rasulullah.

Pengibaran Yang Akan Menggetarkan Nyali Musuh Musuh Islam, Para Pendengki.

Dan Tidak Seperti Pengibaran Ar Rayah Di Bulan Yang Hanya Mungkin Dilakukan Oleh Khilafah Nanti. Pengibaran Ar Rayah Di Puncak Jaya Bisa Dilakukan Dan Diinisiasi Sejak Saat Ini.

Tidak Harus Kami, Boleh Anda, Bisa Siapa Saja

- Dari Komunitas Kecil Yang Bermimpi Laksana Bagai Khalid Bin Walid. Seorang 'Jenderal' Yang Tak Pernah Gagal -

23/12/2017

Dialog Kyai Dan Pendeta Tentang Tahun Baru Masehi.

 Dialog Kyai Dan Pendeta Tentang Tahun Baru Masehi.

Oleh :

KH. DR. Tb. Abdurrahman Anwar Al Bantany.
(Wakil Ketua Dewan Fatwa DPP Tarbiyah PERTI Dan Ketua Badan Nasab Kesulthanan Banten BNKB)

Pak Kyai: Maaf Pak Pendeta, sebentar lagi 1 January Tahun Baru Masehi akan segera tiba, apa yang dilakukan oleh umat Kristen pada malam tahun baru 1 Januari tersebut?

Pendeta: Kami di malam tahun baru tersebut tidak ada kegiatan yang istimewa, ya seperti biasa malamnya jam 19.00 sampai jam 20.00 mengadakan kebaktian di Gereja masing-masing lalu pulang, Dan paginya jam 07.00 sampai jam 09.00 ke Gereja kembali. Itu saja kegiatan kami.

Pak Kyai: Oh jadi itu saja ya gak ada aktifitas yang istimewa.

Pendeta: Iya itu saja.

Pak Kyai: Apakah dari umat Kristiani tidak ada yang turun ke jalan untuk memeriahkan tahun baru anda?

Pendeta: Tidak ada.

Pak Kyai: Kenapa mereka tidak turun ke jalan memeriahkan tahun barunya?

Pendeta: Lah buat apa kami turun kejalan, tanpa kami turun ke jalan juga umat Islam sudah memeriahkan tahun baru kami ko.

Pak Kyai: Maksudnya bagaimana?

Pendeta: Iya kami tidak perlu turun ke jalan karena kami sangat menghaturkan terimakasih kepada umat Islam yang telah memeriahkan dan meramaikan Tahun Baru kami.

Coba Pak Kyai lihat saat tahun baru kami tiba, yang dagang petasan umat Islam, yang beli petasan umat Islam, yang bakar petasan umat Islam untuk merayakan Tahun Baru kami.

Yang dagang terompet umat Islam, yang beli terompet umat Islam dan yang meniup terompet umat Islam demi memeriahkan tahun baru kami.

Yang dagang kembang api umat Islam, yang beli kembang api umat Islam dan yang membakar kembang api umat Islam untuk memeriahkan tahun baru kami.

Umat Islam berbondong-bondong ke ancol, ke TMII, ke puncak dan tempat tempat hiburan, jalan-jalan tumpah ruah penuh dan macet dalam rangka memeriahkan tahun baru kami.

Jadi buat apa kami turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami, tanpa kami turun kejalan umat Islam sudah turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami. Terimakasih Pak Kyai sampaikan kepada umat Islam yang telah turut serta memeriahkan tahun baru kami.

Pak Kyai: Oooh gitu ya, iya nanti kami sampaikan ke umat Islam bahwa orang-orang kristen sangat berterimaksih kepada umat Islam yang telah meramaikan Tahun Baru Masehi 1 Januari.

Coba kita renungkan dialog antara Kyai dan Pendeta tersebut, apakah kita umat Islam dari tahun ke tahun akan terus terusan meramaikan dan memeriahkan Tahun Baru Masehi tersebut padahal orang kristen tidak ada yang turun ke jalan.
[09:25, 12/25/2017] +62 852-1063-4118: