Mau Pasang Iklan, Hub Biro Iklan, Aulia Advertising, Telp 0813 8468 1151
Aulia PROPERTY,MEMASARKAN BALE PERIGI, PURI SINAR PAMULANG, PESONA ALAM CIPUTAT, CLUSTER Tsb Ready Stock Telp 081384681151

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 0856 7386 103, 0813 8468 1151

Sabtu, 10 Oktober 2015

Mengakhiri Bencana Kabut Asap





Kabut asap telah menjadi musibah yang menimpa masyarakat dalam cakupan yang sangat luas. Cakupan musibah kabut asap kali ini paling luas; meliputi wilayah di 12 provinsi, dengan luas jutaan kilometer persegi. Kabut asap pekat terutama menyelimuti wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Di Sumatera, kabut asap menyelimuti 80 persen wilayahnya (Kompas, 5/9).
Kabut asap itu disebabkan oleh kebakaran yang menghanguskan puluhan ribu hektar hutan dan lahan. Kebakaran menghanguskan lebih dari 40.000 hektar lahan di Jambi. Sebanyak 33.000 hektar yang terbakar adalah lahan gambut. (Kompas, 9/9).
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, luas area yang mengalami kebakaran di Kalimantan Tengah (Kalteng) mencapai 26.664 hektar (Kontan.co.id, 27/9).

Kerugian Sangat Besar
Total nilai kerugian akibat bencana asap pada tahun 2015 belum bisa dihitung. Namun, berdasarkan data BNPB, kerugian pada tahun 1997 saja, yaitu mencapai 2,45 miliar dolar AS. Menurut Kepala BNPB Willem Rampangilei, kerugian akibat kebakaran lahan dan hutan serta bencana asap di Riau tahun 2014 lalu, berdasarkan kajian Bank Dunia, mencapai Rp 20 triliun.
Saat ini, di Jambi saja—akibat pencemaran udara yang timbul oleh kabut asap, dampak ekologis, ekonomi, kerusakan tidak ternilai dan biaya pemulihan lingkungan—kerugian diperkirakan Rp 2,6 triliun. Nilai kerugian itu belum termasuk kerugian sektor ekonomi, pariwisata dan potensi yang hilang dari lumpuhnya penerbangan.
Bencana kabut asap juga telah menyebabkan bencana kesehatan massal. Sebanyak 25,6 juta jiwa terpapar asap, yaitu 22,6 juta jiwa di Sumatera dan 3 juta jiwa di Kalimantan. Puluhan ribu orang menderita sakit. Hingga 28/9, di Riau saja tercatat 44.871 jiwa terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut/ISPA (Riau Online, 28/9). Jumlah itu masih mungkin akan bertambah. Jumlah itu belum ditambah total puluhan ribu kasus ISPA di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan daerah lainnya.

Akibat Ulah Manusia
Sebagian musibah yang ditimpakan oleh Allah SWT terhadap manusia adalah akibat perbuatan manusia sendiri, termasuk bencana kabut asap. Musibah tersebut seharusnya menyadarkan manusia akan kesalahan mereka sehingga mereka segera kembali ke jalan yang benar.
]ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[
Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Penyebab kebakaran di Indonsesia sudah banyak dikaji oleh para peneliti berbagai belahan dunia. Semua berkesimpulan bahwa ulah manusialah penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Pengelolaan lahan yang masih menjadikan api sebagai alat yang murah, mudah dan cepat menjadi inti dari penyebab kebakaran.
Banyaknya pelaku yang ditindak kali ini adalah bukti. Menurut Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti, Polri telah resmi menetapkan 10 korporasi (perusahaan) dan 167 warga sebagai tersangka pelaku pembakaran hutan dan penyebab bencana kabut asap (Elshinta.com, 22/9). Menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, sedikitnya 124 perusahaan diduga melakukan pelanggaran dalam kasus kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan (Elshinta.com, 18/9).

Terus Berulang
Kebakaran lahan dan hutan yang cukup dahsyat sudah terjadi setidaknya sejak 1967. Sejak itu kebakaran lahan dan hutan terus berulang tiap tahun. Semua ini menunjukkan tiga hal. Pertama: Penindakan terhadap para pelaku selama ini begitu lemah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, karena adanya pembiaran dan penegakan hukum yang lemah, pelanggaran terus terjadi (Kompas.com, 14/9). Kedua: Seolah tak pernah ada upaya Pemerintah untuk mengambil pelajaran. Padahal dengan belajar dari kasus-kasus sebelumnya, seharusnya kebakaran lahan dan hutan sudah bisa dicegah semaksimal mungkin oleh Pemerintah. Ketiga: Kebijakan/aturan tak memadai dan tak konsisten dijalankan sehingga tak bisa mencegah dan mengakhiri kebakaran lahan dan hutan. Masih banyak celah hukum sehingga para pelaku bisa lolos dari jerat hukum.
Pemerintah saat ini telah menggunakan pendekatan baru, yaitu pemberian sanksi berupa pembekuan hingga pencabutan izin usaha yang dimiliki oleh korporasi atau perusahaan. Menurut Walhi, sanksi administratif akan efektif jika dilakukan secara serius untuk mencegah kembali kasus pembakaran lahan dan hutan yang terus berulang (Elshinta.com, 8/9). Namun, hal itu tak akan mengakhiri secara tuntas kasus kebakaran karena tak menyentuh akar masalahnya.

Akar Masalah
Para ahli dan aktivis lingkungan menilai akar masalah dari kebakaran lahan adalah kerusakan ekosistem lahan gambut. Kebakaran terjadi karena alih fungsi di lahan yang sangat mudah terbakar sangat besar. Pemicu kebakaran ini adalah karena keringnya lahan gambut setelah alih fungsi lahan. Dalam proses alih fungsi, lahan gambut itu selalu disertai pengeringan lewat pembuatan kanal-kanal. Ahli hidrologi dari Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanuddin, mengatakan, akar dari kebakaran lahan gambut di Sumsel adalah adanya pengeringan berlebih dan tidak terkendali. Hal senada diungkapkan oleh peneliti gambut Universitas Riau, Haris Gunawan. Menurut dia, gambut di wilayah Sumatera dan Kalimantan kini mudah terbakar karena maraknya alih fungsi lahan. Bentang alam gambut berubah. Area gambut dengan biodiversitas beragam dan basah disulap menjadi area perkebunan dengan satu jenis tanaman dan dikanalisasi untuk mendukung budidaya. Akibatnya, gambut kering dan mudah terbakar (Kompas, 10/9).
Adapun menurut Direktur Eksekutif Walhi Nasional Abetnego Tarigan, akar persoalan dari bencana kabut asap tersebut bersumber dari monopoli penguasaan tanah oleh segelintir orang (Kompas.com, 12/9).

Solusi Tuntas
Bencana akibat kebakaran lahan dan hutan sangat sulit atau bahkan mustahil diakhiri dalam sistem kapitalis saat ini. Pasalnya, demi kepentingan ekonomi, jutaan hektar hutan dan lahan diberikan konsesinya kepada swasta. Padahal itulah yang menjadi salah satu akar masalahnya.
Bencana kebakaran hutan dan lahan hanya akan bisa diakhiri secara tuntas dengan sistem Islam melalui dua pendekatan: pendekatan tasyrî’i (hukum) dan ijrâ’i (praktis).
Secara tasyrî’i, Islam menetapkan bahwa hutan termasuk dalam kepemilikan umum (milik seluruh rakyat). Rasul saw. bersabda:
«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلإَِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»
Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sebagai milik umum, hutan haram dikonsesikan kepada swasta baik individu maupun perusahaan. Dengan ketentuan ini, akar masalah kasus kebakaran hutan dan lahan bisa dihilangkan. Dengan begitu kebakaran hutan dan  lahan bisa dicegah sepenuhnya sejak awal.
Pengelolaan hutan sebagai milik umum harus dilakukan oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, tentu harus secara lestari. Dengan dikelola penuh oleh negara, tentu mudah menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi, kepentingan rakyat dan kelestarian hutan. Negara juga harus mendidik dan membangun kesadaran masyarakat untuk mewujudkan kelestarian hutan dan manfaatnya untuk generasi demi generasi.
Jika ternyata masih terjadi kebakaran hutan dan lahan, maka wajib segera ditangani oleh Pemerintah karena Pemerintah wajib memperhatikan urusan rakyatnya dan memelihara kemaslahatan mereka. Pemerintah akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu di dunia maupun diakhirat.
Adapun secara ijrâ’i, Pemerintah harus melakukan langkah-langkah, manajemen dan kebijakan tertentu; dengan menggunakan iptek mutakhir serta dengan memberdayakan para ahli dan masyarakat umum dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan dampak kebakaran yang terjadi.

Wahai Kaum Muslim:
Mengakhiri kebakaran hutan dan lahan secara tuntas dengan dua pendekatan, tasyrî’i dan ijrâ’i, hanya bisa diwujudkan dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa diwujudkan melalui penerapan syariah Islam dalam sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Inilah yang harus sesegera mungkin diwujudkan oleh seluruh kaum Muslim negeri ini. Dengan itu berbagai bencana akibat ulah manusia, termasuk bencana kabut asap, bisa diakhiri. Pada akhirnya, masyarakat akan bisa merasakan hidup tenang tanpa merasa khawatir terhadap bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []


Komentar al-Islam:

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mencatat 572 perusahaan logistik dan jasa transportasi barang berhenti beroperasi. Order pengiriman barang terhenti akibat dari perlambatan ekonomi. "Sekitar 15 persen dari anggota kami mati suri, belum termasuk 1.500 pengusaha yang tak terdaftar ALFI," ujar Ketua Umum ALFI Yukki N. Hanafi, di Jakarta, Senin, 28 September 2015. ALFI, katanya, memiliki 3.812 perusahaan (Tempo.co, 29/9).

1. Sebelumnya puluhan ribu orang telah di-PHK. Angka pengangguran terus bertambah. Sebanyak 7,2 juta jiwa menganggur penuh alias sama sekali tak bekerja. Kurang lebih 40 juta penduduk lainnya masih atau sedang mencari pekerjaan yang lebih layak (Kompas.com, 21/9). Rupiah pun terus jeblok, bahkan sudah mencapai 14.700 perdolar AS (Tempo.co, 28/9). Masih banyak tanda-tanda keterpurukan ekonomi lainnya.
2. Semua keterpurukan itu adalah akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal.
3. Oleh karena itu sistem kapitalisme neoliberal harus segera dihentikan, ditinggalkan dan diganti dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan.

KHILAFAH RASYIDAH MENGATUR HAJI




BAGAIMANA KHILAFAH RASYIDAH AKAN MENGATUR HAJI?
Oleh: Abu Khalid al-Hijazi.
Negara Islam (Khilafah Islam) akan mengatur haji dengan tujuan untuk melayani para peziarah dan membantu mereka dalam menyelesaikan kewajiban ini dengan cara sebaik mungkin. Mengambil untung dari para jamaah, baik untuk hotel maupun transportasi atau makanan tidak akan menjadi tujuannya. Negara bahkan akan lebih mengurangi praktik-praktik tersebut jika terjadi.
Saat ini pengaturan Masjidil Haram tidak memungkinkan akomodasi bagi lebih dari 3,5-4 juta jemaah pada saat yang sama. Pasalnya, selain karena jumlah kaum Muslim dan pertumbuhan orang-orang yang masuk Islam, jumlah orang yang diizinkan untuk melakukan ibadah haji perlu ditingkatkan. Ini adalah tantangan pertama bagi Negara Islam. Setiap kenaikan dalam jamaah haji akan membutuhkan restrukturisasi di luar dan di dalam area masjid.
Pada tahun 1982, ketika Raja Fahd berkuasa, dia mengumumkan perluasan Masjidil Haram dan membangun perluasan masjid yang sekarang dikenal sebagai perluasan Raja Fahd. Raja Abdullah, Raja Saudi saat ini, juga telah mengumumkan perluasan Masjid tersebut yang diharapkan akan selesai pada tahun 2020.
Rencana perluasan area oleh Raja Fahd memerlukan luas lahan yang luas, yang akan diperoleh dari lingkungan Masjid. Ribuan rumah akan dihancurkan, termasuk banyak peninggalan masa lalu. Sebagian besar dari tanah yang diperoleh dan rumah-rumah diberikan kepada pengembang real estate sehingga menyebabkan beberapa orang non-Muslim (yang tidak dibolehkan masuk ke Makkah) bisa membuka hotel mereka di sekitar Masjidil Haram. Hotel Radission, Sheraton, Intercontinental; semuanya memiliki nilai tinggi karena terletak di sekitar Masjidil Haram. Tak hanya itu, mereka tidak keberatan untuk memberikan Tanah Suci kepada orang-orang yang terkenal memiliki reputasi buruk seperti Paris Hilton. Ia diizinkan untuk membuka showroom franchise-nya di sekitar Masjid.
Jadi, proyek perluasan bagi Raja tidak hanya memberinya keuntungan politik potensial, tetapi juga manfaat bagi banyak anggota keluarganya yang kini memiliki saham di perusahan real estate properti yang berkembang di Makkah.
Pertama kali, Negara Islam akan berusaha untuk memperluas ruang terbuka di sekitar Masjidil Haram sehingga lebih banyak jamaah yang dapat ditampung. Karena suhu bisa menjadi sangat tinggi selama musim panas, ruang terbuka juga akan ditutupi dengan payung mekanik (yang mirip dengan yang digunakan sekarang di Madinah). Dispenser oksigen juga akan dipasang bersama dengan payung mekanik itu yang akan memancarkan kombinasi oksigen dan uap air untuk mengurangi panas selama musim panas. Ini akan menjadi rencana awal Negara Islam.
Kemudian perluasan wilayah akan dilakukan yang meliputi ruang tersebut dan membuat penyejuk udara.
Struktur saat ini mencakup area seluas 356.800 meter persegi (88,2 hektar), termasuk ruang indoor dan outdoor, untuk shalat dan dapat menampung hingga empat juta jamaah selama musim haji.
Penting untuk disebutkan bahwa proyek raksasa ash-Shamiyya ke barat laut tempat suci ini sedang dikembangkan di atas lahan seluas 1.500.000 meter persegi. Itu membentang dari ujung masjid hingga ke luar jalan yang melingkar ke utara dan dari Jalan Masjidil Haram ke timur dan Jalan Jabal al-Aqaba ke barat.
Rencana tersebut meliputi ash-Shamiya, Garoul, Al-Qarara wa Alnqa. Area yang akan dikembangkan mencapai tiga juta meter persegi yang didistribusikan di antara kegiatan-kegiatan yang berbeda; mulai dari hotel, hotel residence, pusat-pusat komersial dan pasar, pelayanan umum, selain tempat tinggal permanen bagi masyarakat.
Jika wilayah ini yang berdekatan dengan Masjidil Haram diubah menjadi pelataran tempat ibadah dengan lantai marmer untuk para jamaah, wilayah itu dapat menampung 4,5 juta jamaah! Jika diubah menjadi ruang tertutup dua lantai maka jumlah yang bisa ditampung akan menjadi dua kali lipat. Area yang ada untuk mengembangkan ash-Shamiya termasuk pengembangan perumahan dan ruang hotel untuk 250.000 orang dan ruang shalat hanya untuk 400.000 orang.
Proyek Jabal Umar di barat daya masjid yang telah menyita lebih dari 600 properti melibatkan pembangunan dua hotel bintang lima dengan 935 kamar dan enam hotel bintang tiga dengan 1.255 kamar di seluruh area yang mencakup 244.800 meter persegi. Bangunan perumahan dengan 20 lantai akan menampung 100.000 orang, 520 restoran dan 4.360 unit komersial dan ritel juga sedang dibangun. Rencana saat ini termasuk rencana untuk membuat sebuah bangunan 6 lantai untuk jamaah, untuk mengakomodasi 100.000 jamaah ini.
Misi Negara Islam akan memastikan bahwa rukun Islam ke 5 ini dapat dipenuhi oleh semakin banyak orang. Dalam melakukan ini Negara Islam tidak akan berusaha untuk mengambil keuntungan dari para jamaah. Negasra Islam justru bertujuan untuk membantu mereka dan memberikan semua fasilitas kepada mereka sehingga akan memudahkan mereka.
Jabal Umar, jika hanya diubah menjadi suatu bidang seperti yang disebutkan sebelumnya—dengan membuat payung mekanik dan dispenser oksigen—dapat mengakomodasi 750.000 jamaah untuk shalat.
Proyek lain, Jabal Khandama, yang meliputi lebih dari 600.000 meter persegi sedang dikembangkan menjadi area campuran yang digunakan yang sebagian besar untuk hotel dan apartemen untuk tempat tinggal dan wilayah perbelanjaan. Pembangunan kembali area ini sebagai ruang shalat akan memberikan ruang bagi sekitar 2 Juta jamaah.
Semua proyek ini berdekatan dengan Masjidil Haram dan dapat digabungkan dengan Masjidil Haram dengan mudah.
Dalam sebagian besar proyek-proyek properti ini, area yang dipakai sering diperoleh dengan memberikan sedikit atau tanpa kompensasi dan dalam beberapa kasus para pemilik diberikan waktu kurang dari seminggu untuk meninggalkan tempat tinggalnya.
Ka’bah Jabal adalah proyek lain yang mencakup sekitar 46.000 meter persegi. Sama halnya dengan Benteng Ajyad di atas Gunung Bulbul yang dihancurkan untuk membangun Menara Abraj al-Bait. Menara ini bersama dengan struktur yang menjulang lainnya adalah pelanggaran atas kesucian Ka’bah. Tentu ironis, di satu sisi pesawat tidak boleh terbang di atas Masjidil Haram, tetapi di sisi lain menara-menara tinggi terus-menerus dapat membuat kerdil Masjidil Haram.
Tempat bersejarah yang penting lainnya yang telah dihancurkan oleh Saudi adalah lima dari “Tujuh Masjid” yang terkenal yang awalnya dibangun oleh anak perempuan Nabi Muhammad saw. dan empat “Sahabat Terbesar” beliau: Masjid Abu Bakar, Masjid Salman al-Farsi, Masjid Umar bin al-Khaththab, Masjid Sayyidah Fathimah binti Rasulullah dan Masjid Ali bin Abu Thalib.
Telah dilaporkan bahwa sekarang terdapat kurang dari 20 struktur bangunan yang tersisa di Makkah yang berasal dari zaman Nabi Muhammad saw. Bangunan-bangunan lainnya yang sudah dihancurkan adalah: Rumah Khadijah, istri Nabi Muhammad saw., yang dibongkar untuk membuat jalan bagi WC umum; rumah Abu Bakar, Sahabat Nabi Muhammad saw., yang sekarang menjadi tempat untuk Hotel Hilton lokal; rumah Ali-Oraid, cucu Nabi Muhammad saw., dan Masjid Abu-Qubais, yang sekarang menjadi lokasi Istana Raja di Makkah; Tempat lahir Nabi Muhammad saw., dibongkar untuk membuat jalan bagi perpustakaan; dan Menara Abraj Al-Bait, dibangun setelah menghancurkan Benteng Ajyad yang dibangun di era Khilafah Usmani.
Alasan yang sesungguhnya dari penghancuran banyak bangunan bersejarah adalah untuk pembangunan hotel, apartemen tempat parkir dan fasilitas infrastruktur lainnya untuk para jamaah Haji. Namun, banyak yang telah dihancurkan tanpa alasan seperti itu. Misalnya, ketika rumah Ali-Oraid, cucu Nabi Muhammad saw., ditemukan dan digali, Raja Fahd memerintahkan untuk meratakan karena khawatir rumah itu menjadi situs ziarah.
Istana Raja yang berada di Gunung Abu Qubais mencakup wilayah lebih dari 100.000 meter persegi akan memberikan tempat sebagai akomodasi bagi lebih banyak jamaah untuk shalat.
Jadi, jika wilayah sekitar Masjid dibebaskan dari bangunan, dan bahkan jika itu awalnya diubah menjadi ruang dengan lantai marmer terbuka, tempat itu akan memberikan ruang bagi setidaknya 10 juta peziarah.
Perubahan struktural tertentu untuk masjid juga harus dilakukan. Misalnya untuk mataf (area tawaf) yang harus diperluas. Pembongkaran tempat yang dibangun di era Khilafah Utsmani menyebabkan ruang lebih di daerah mataf dan memberikan perluasan lebih lanjut dari mataf yang dapat dilakukan dengan menghilangkan lebih luas tempat itu sehingga ukuran mataf bisa meningkat.
Untuk memudahkan anak-anak, perempuan dan orang tua, Negara Islam akan memanfaatkan teknologi modern seperti travelator di lantai atas. Hal itu tidak hanya akan meringankan masalah bagi para peziarah, tetapi juga akan menghentikan pemilik kursi roda untuk mengenakan biaya terlalu tinggi.
Adapun dalil mengapa travelator dapat digunakan kita mengetahuinya dari hadis riwayat Ibnu Abbas ra.. Dalam haji terakhirnya, Nabi Muhammad saw. melakukan tawaf dari Ka’bah dengan naik unta dan menunjuk dengan tongkat ke arah sudut (Hajar Aswad) (HR al-Bukhari).
Demikian pula travelator dapat digunakan antara Safa dan Marwa.
Tantangan kedua yang akan dihadapi Negara Islam adalah bagi penduduk Makkah dan para peziarah. Makkah menjadi wilayah pegunungan yang memiliki beberapa gunung yang menutupi datarannya. Menghilangkan pegunungan ini dan mengembangkannnya menjadi wilayah pemukiman akan memecahkan banyak masalah perumahan. Sebagian besar wilayah ditutupi oleh pegunungan ini yang menuju selatan timur masjid, dan di utara distrik tempat hijrah dan selatan dari tempat pemberhentian Mahbas Al-Jinn.
Dengan pertumbuhan penduduk Muslim, akan datang suatu masa ketika apa yang direncanakan negara akan gagal. Karena itu Negara Islam harus bekerja membangun kota-kota satelit yang bersebelahan dengan Makkah untuk rumah-rumah bagi peziarah dan penduduk kota. Kenyataan seperti itu memang tidak dapat diharapkan segera terjadi, tetapi pasti akan terjadi saat seluruh dunia masuk Islam. Tamim ad-Dari ra. mengatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda:
Sesungguhnya perkara ini (Islam) akan mencapai tempat-tempat yang dicapai oleh siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah bagus ataupun rumah sederhana kecuali Dia akan memasukkan agama ini ke dalamnya, baik dengan kehormatan orang-orang terhormat atau kehinaan orang-orang hina. Kehormatan adalah saat Allah memuliakan dia dengan Islam. Kehinaan adalah saat Allah menghinakan dia dengan kekufuran (HR Ahmad).
Tantangan ketiga yang akan dihadapi Negara Islam (Khilafah) adalah mengenai transportasi. Diperlukan sebuah sistem transportasi yang lengkap. Kombinasi Sistem Angkutan Umum & Mass Rapid Transport sistem (MRTS) akan melayani kebutuhan bagi para peziarah. Sistem transportasi Mass Rapid akan diterapkan di tempat-tempat suci seperti Masjid di Makkah, Mina, Muzadalifah dan Arafah pada awalnya; namun akhirnya akan mencakup semua wilayah di tempat suci.
Desain dan konstruksi MRTS akan dibuat di bawah tanah dan akan melibatkan beberapa jalur di setiap pelabuhan. Hal ini untuk menghindari kemacetan di pelabuhan-pelabuhan pada saat dan turun dari kapal. Contoh pemanfaatan yang efektif dari MRTS di kota-kota seperti Malaysia, Delhi, London dan lain-lain akan dipelajari dan dipakai.
Pada setiap stasiun, jumlah orang yang dapat naik kereta dan jumlah kereta yang tiba secara berkala harus direncanakan sedemikian rupa untuk menghindari kecelakaan akibat penumpang yang berlebih yang naik dari stasiun.
Tahun ini (2012) di Arafah, beberapa orang meninggal di stasiun metro. Hal ini karena terdapat 21 kereta dan setiap kereta dapat memuat 4000 jamaah pada satu waktu. Namun, jumlah jamaah yang memasuki stasiun setelah matahari terbenam jauh lebih besar. Banyak jamaah yang wafat karena sesak napas. Beberapa meninggal karena terjadi dorong-dorongan penumpang berikutnya. Negara Islam tidak akan melakukan uji coba dengan mengorbankan nyawa kaum Muslim sehingga akan merencanakan hal-hal itu dengan cara yang tidak menyebabkan kerumitan bagi para peziarah.
Adapun mengenai angkutan umum, ada kekurangan serius atas kendaraan angkutan umum dalam kota dan jalan-jalannya sempit dan diatur dengan buruk. Mobil-mobil pribadi tidak akan diizinkan berada dekat dengan daerah dengan kemacetan yang tinggi seperti Masjidil Haram dan Arafah. Transportasi di daerah-daerah ini akan disediakan oleh kendaraan-kendaran negara.
Tantangan Negara Islam akan dihadapi terkait Mina, Muzdalifah dan Arafah. Realitas kota ini mirip dengan yang dari Makkah, pegunungan. Mereka (jamaah) harus dibawa turun. Gedung-gedung bertingkat tinggi dibangun di tempat mereka. Sunnah untuk haji adalah untuk tinggal di Mina dan tidak harus di tenda. Pasalnya, gedung-gedung bertingkat tinggi akan memungkinkan pemanfaatan yang sangat tinggi dan efektif ruang.
Lalu mengapa Pemerintah Saudi belum mencoba mendirikan bangunan? Karena keuntungan yang sangat rendah atas investasi dari uang mereka. Namun bagi Negara Islam, kembalinya investasi adalah berupa ibadah haji yang lebih mudah bagi umat Islam.
Masalah saat ini di tiga kota adalah mengenai transportasi dan ruang. MRTS akan menyelesaikan masalah transportasi dan gedung-gedung tinggi akan mengatasi kendala ruang.
Perencanaan saat Jamarat saat ini adalah sangat baik dan dapat menampung jumlah yang jauh lebih besar dari jumlah peziarah pada hari ini.
Tantangan lain yang akan dihadapi Negara Islam adalah mengenai makanan dan air. Pabrik desalinasi besar akan didirikan di Jeddah untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan air dan air Zamzam yang akan dialirkan di tempat-tempat yang berbeda di sekitar kota dan tempat-tempat suci lainnya. Suatu kontrol ketat atas kualitas makanan tetap terjaga, tidak ada pemalsuan dalam makanan yang akan diperbolehkan dan mengenakan biaya yang berlebihan bagi para peziarah tidak akan diberbolehkan.
Semua hal ini akan dipertahankan lebih jauh dengan meningkatkan ketakwaan masyarakat dan mengingatkan mereka dan lebih sedikit dengan hukuman.
sama di Madinah sebagaimana di Makkah.
Semoga Allah SWT memberikan kita kemenangan dan memungkinkan kita untuk mendirikan kembali Khilafah di jalan kenabian.
Al-Islam edisi 774, 18 Dzulhijjah 1436 H – 2 Oktober 2015 M


Jumat, 02 Oktober 2015

10 Cara mengobati sakit gigi dengan bahan alami

Doa Jika Sakit Gigi
 

Cara mengobati sakit gigi tidak selalu dengan menggunakan obat kimia, ada beberapa bahan alami yang bisa dijadikan sebagai obat sakit gigi. Bahan alami ini tentunya lebih cepat mengobati dan lebih aman dibandingkan obat-obatan kimia. Berikut beberapa resep obat sakit gigi dengan menggunakan bahan alami.

1. Cabai Hijau

Cabai hijau mengandung zat yang bisa meredakan sakit gigi. Cara menggunakan cabai untuk mengobati sakit gigi yaitu dengan membuang ujung dari cabai kemudian dibakar sampai panas kemudian di tempelkan pada gigi yang sakit. Lakukan beberapa kali sampai gigi tidak sakit lagi.

2. Es batu

Cara mengobati sakit gigi dengan menggunakan es batu sangatlah mudah. Dengan es batu bisa mengurangi bengkak pada gusi gigi. Agar tidak mudah cair letakkan es batu pada kain kemudian letakkan pada pipi atau langsung tempelkan pada gusi yang bengkak.

3. Bawang Merah

Dengan menggunakan bawang merah bisa mengurangi rasa sakit pada gigi. Cara menggunakannya sangat mudah cukup tumbuk bawang merah kemudian letakkan pada bagian gigi yang sakit. Rasanya memang tidak enak tapi enzim yang ada dalam bawang merah bisa membunuh kuman-kuman yang menyebabkan sakit gigi.

4. Bawang Putih

Cara mengobati sakit gigi berlubang bisa menggunakan bawang putih. Cukup dengan mengiris bawang putih kemudian letakkan di bagian gigi yang berlubang. Dengan cara ini akan bisa mengurangi rasa sakit pada gigi. Agar gigi berlubang tidak sakit lagi segera tambalkan saja setelah sakitnya mereda.

5. Minyak Cengkeh

 Minyak cengkeh bisa mengobati sakit gigi yang berlubang. Cara mengobati sakit gigi dengan menggunakan minyak cengkeh sangat mudah cukup oleskan minyak cengkeh pada pipi yang bagian giginya sakit. Anda juga bisa langsung mengoleskan minyak cengkeh pada gusi yang sakit.

6. Jeruk nipis

Jeruk nipis yang kaya akan kandungan vitamin C sangat baik untuk mengobati sakit gigi. Cara menggunakannya sangat mudah oleskan air jeruk nipis pada gigi yang sakit atau kumur-kumurlah dengan air jeruk nipis dua kali sehari sampai sakit gigi sembuh.

7. Tepung Lada

Penggunaan tepung lada ini lebih menjaga dan mengurangi rasa sakit. Cara mengobati sakit gigi dengan menggunakan tepung lada sangat mudah. Campurkan sedikit tepung lada pada pasta gigi kemudian gosoklah gigi dengan campuran pasta dan tepung lada tersebut. Lakukan dua kali sehari sampai gigi sembuh.

8. Garam

Garam juga sangat ampuh untuk mengobati sakit gigi. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menggunakan garam sebagai obat gigi. Bisa dioleskan langsung pada gigi atau pada pipi. Cara yang paling ampuh yaitu dengan kumur-kumur dengan menggunakan air garam.

9. Daun Kembang Sora

Kembang sore merupakan tanaman yang hanya mekar disore hari. Cara mengobati sakit gigi dengan kembang sore sangat mudah, rebus beberapa lembar daun kembang sore kemudian airnya diminum dan dijadikan kumur-kumur.

10. Belimbing wuluh

Belimbing wuluh yang biasanya dijadikan sebagai pengganti tomat bisa dijadikan sebagai obat sakit gigi. Cukup makan belimbing wuluh yang sudah dicocol dengan garam, kunyah dengan menggunakan gigi yang sakit. inicara,info

http://tips-kesehatan.net