Mau Pasang Iklan, Hub Biro Iklan, Aulia Advertising, Telp 0813 8468 1151
Aulia PROPERTY,MEMASARKAN BALE PERIGI, PURI SINAR PAMULANG, PESONA ALAM CIPUTAT, CLUSTER Tsb Ready Stock Telp 081384681151

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 0856 7386 103, 0813 8468 1151
Tampilkan postingan dengan label Karomah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karomah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2016

Ikhlas Karena Allah

Ikhlas karena Allah SWT dan semata-mata hanya kepada Allah segalanya dipersembahkan adalah induk kekayaan seorang hamba dan pokok segala persoalannya.
Ikhlas juga merupakan pangkal pondasi kebaikan kehidupan, esensi dari kebahagiaan, keberhasilan, segala kenikmatan hidup, dan kesejukan pandangan matanya.
Karena demikianlah hakikat dari kita diciptakan dan diperintahkan dalam relung kehidupan. Atas dasar demikian pula saat para Rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.
Tidak layak bagi hati, dan tak ada terasa kenikmatan jika segalanya tidak dipersembahkan kepada Allah azza wa jalla. Maka adalah hanya kepada-Nya semata segalanya kita persembahkan, kita memohon, dan kita berkeinginan.
Siapa saja yang bisa bersikap demikian, cukup Allah SWT baginya untuk segala kepentingan. Cukup hanya kepada Allah dia bersandar. Dia Allah akan mendorong dan membantu saat dirinya tidak mampu melakukan.
Allah akan melindunginya layaknya perlindungan orang tua pada anaknya. Allah lah yang akan melindungi dia dari segala marabahaya. Dan adalah bagi dia hanya Allah, sehingga Allah pun selalu hadir untuknya. Saat dirinya tidak memiliki daya dan upaya. [Oleh H. Luthfi H.]

Jumat, 07 Februari 2014

Tahukah...Anda ALLah Telah Membeli Harta Dan Jiwa Kita....?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)

Ketika kota Madinah ditimpa kemarau panjang, harga-hargà barang keperluan di pasar mula meninggi. Sem
entara itu persediaan (stok) makanan semakin berkurangan. Di saat krisis seperti itu datanglah serombongan kafilah dagang dengan puluhan ekor unta yang membawa màkanan, tepung, gandum, minyak zaitun, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup untuk selüruh penghuni Madinah. Para pedagang mulai sibuk mencari siapa pemilik barang dagangan yang sangat diperlukan warga kota ini. Mereka segera menyambut barang tersebut dengan harapan mendapat kesempatan sebagai pengedar. Selidik punya selidik ternyata Utsman bin Affan RA iaitu menantu Rasulullah SAW itulah pemilik bahan-bahan makanan berharga tersebut.

Para pedagang tentu saja merasa gembira karena Utsman bin Affan RA termasuk hartawan yang jujur dan tidak pernah merugikan orang lain. Mereka segera menawarkan tawaran keuntungan kepada Utsman bin Affan RA.

“Saya siap memberi anda 4 persen”, kata salah seorang mereka, “Saya beri 5 persen!”, “Saya 10 persen”. “Saya berani 20 persen”, kata mereka menawarkan pemberiannya. Utsman bin Affan RA tersenyum melihat tingkah laku para pedagang itu. Beliau berkata, “Saya akan menjualnya kepada pemberi keuntungan tertinggi”. “Berapa keinginanmu?”, tanya para pedagang itu.

“Siapa yang dapat memberi 700 kali lipat akan aku berikan”, kata Utsman bin Affan RA pula.

Para pedagang itu terdiam semua karena terkejut dengan permintaan Utsman bin Affan RA. “Nah, para pedagang sekalian”, kata Utsman bin Affan RA, “Saksikanlah. Saya akan menjual barang- barang ini kepada Allah yang memberi pahala 700 kali lipat, bahkan berlipat ganda lebih dari itu. Tidakkah kalian dengar firman Allah SWT” Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.. (Al Baqarah: 265)

Kita Berjual Beli dengan ALLAH SWT

Apakah pandangan yang mendasari pemikiran Utsman bin Affan RA dalam kisah di atas? Hubungan seorang hamba yang beriman (mu’min) dengan Allah seperti hubungan antara penjual dan pembeli. Mu’min bertindak sebagai penjual sedangkan Allah sebagai pembelinya. Jual beli dengan Allah pada mulanya berdasarkan penawaran dari Allah sendiri, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (As Shaff : 10)

Seorang mu’min, seperti halnya Utsman bin Affan RA, menyambut penawaran Allah ini dengan suka cita. Namun, apa yang dapat dijualnya kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta termasuk dirinya sendiri? Alangkah uniknya, kita ini ciptaan Allah dan milik-Nya belaka namun dapat dibeli oleh-Nya dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan “bebas dari api neraka”. Adakah jual yang lebih menguntungkan dari keselamatan dari api neraka?

Apakah yang dapat diberikan kepada Allah untuk menebus diri ini dari adzab yang pedih? Allah memberikan jawaban yang jelas tentang ini dalam huraian ayat tersebut, “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu Mengetahuinya”. (As Shoff: 11)

Artinya, untuk dapat berjual beli dengan Allah, setiap mu’min hendaknya beriman kepada Allah dan Rasulnya, yaitu beriman kepada pengertian syahadat Laailaha illa-llah dan ma’na syahadat Muhammadur Rasulullah dengan sesungguhnya. Kemudian berjihad di jalan Allah baik dengan harta maupun nyawa. Itulah yang dapat diberikan kepada Allah. Maka seruan Allah dan sambutan mu’min ini diabadikan dalam ayat lain dari Kitabullah yang mulia dengan ungkapan,

“Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mü’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar”. (At Taubah: 111)

Apakah yang dituntut dari seorang yang telah menjual dirinya kepada Allah? Pernyataan ayat: “mereka berperang di jalan Allah “, menunjukkan bahwa orang yang beriman siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, untuk menepati perjanjiannya dengan Allah. Seluruh hidupnya merupakan realisasi menepati perjanjian ini.

Konsekuensinya, mu’min dan mu’minah tidak lagi memiliki kebebasan untuk menolak beban tugas yang Allah berikan kepadanya. Dengan demikian ia menjadikan hidupnya untuk berjihad di jalan Allah dan cita-cita tertingginya adalah syahid fi sabilillah. Untuk itu, Allah pasti akan membayar harganya yaitu syurga dan segala keni’matan di dalamnya.

Hakikat Perdagangan

Seorang penjual yang baik tentu akan menjual produk dagangan yang berkualiti. Sehingga semakin tinggi kualiti dagangannya semakin mahal harganya. Karena yang dijual orang yang beriman kepada Allah adalah harta dan dirinya dalam bentuk kerja, maka semua yang dimiliki dan dilakukan mu’min wajib diniatkan untuk Allah. Itulah jalan untuk memperoleh nilai pembelian yang tinggi di sisi Allah.

Dengan jual beli di atas, dalam menjalani hidupnya hendaknya seorang mu’min bersungguh-sungguh untuk mengislamisasikan dirinya dalam hal: keyakinan, cara berfikir, perasaan, maupun perbuatannya. Setelah itu, dia pun wajib menegakkan Islam di dalam rumah tangganya, masyarakat dan bangsanya, bahkan di seluruh dunia. Caranya ialah dengan meneladani mehnah tribulasi orang-orang beriman sebelumnya. Yaitu mereka yang hidup dalam hidayah Allah dan telah membuktikan janji mereka di hadapan Allah.

Kisah Utsman bin Affan RA diatas baru segelintir contoh sikap orang beriman dalam mencari redha Allah, beliau berkeyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala berlipat ganda terhadap pengorbanannya, menolong warga Madinah yang menghadapi kemarau panjang dengan pahala berlipat ganda. Bukankah Allah sendiri menyatakan, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”. (Al-hadid: 11).
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)

Ketika kota Madinah ditimpa kemarau panjang, harga-hargà barang keperluan di pasar mula meninggi. Sementara itu persediaan (stok) makanan semakin berkurangan. Di saat krisis seperti itu datanglah serombongan kafilah dagang dengan puluhan ekor unta yang membawa màkanan, tepung, gandum, minyak zaitun, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup untuk selüruh penghuni Madinah. Para pedagang mulai sibuk mencari siapa pemilik barang dagangan yang sangat diperlukan warga kota ini. Mereka segera menyambut barang tersebut dengan harapan mendapat kesempatan sebagai pengedar. Selidik punya selidik ternyata Utsman bin Affan RA iaitu menantu Rasulullah SAW itulah pemilik bahan-bahan makanan berharga tersebut.

Para pedagang tentu saja merasa gembira karena Utsman bin Affan RA termasuk hartawan yang jujur dan tidak pernah merugikan orang lain. Mereka segera menawarkan tawaran keuntungan kepada Utsman bin Affan RA.

“Saya siap memberi anda 4 persen”, kata salah seorang mereka, “Saya beri 5 persen!”, “Saya 10 persen”. “Saya berani 20 persen”, kata mereka menawarkan pemberiannya. Utsman bin Affan RA tersenyum melihat tingkah laku para pedagang itu. Beliau berkata, “Saya akan menjualnya kepada pemberi keuntungan tertinggi”. “Berapa keinginanmu?”, tanya para pedagang itu.

“Siapa yang dapat memberi 700 kali lipat akan aku berikan”, kata Utsman bin Affan RA pula.

Para pedagang itu terdiam semua karena terkejut dengan permintaan Utsman bin Affan RA. “Nah, para pedagang sekalian”, kata Utsman bin Affan RA, “Saksikanlah. Saya akan menjual barang- barang ini kepada Allah yang memberi pahala 700 kali lipat, bahkan berlipat ganda lebih dari itu. Tidakkah kalian dengar firman Allah SWT” Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.. (Al Baqarah: 265)

Kita Berjual Beli dengan ALLAH SWT

Apakah pandangan yang mendasari pemikiran Utsman bin Affan RA dalam kisah di atas? Hubungan seorang hamba yang beriman (mu’min) dengan Allah seperti hubungan antara penjual dan pembeli. Mu’min bertindak sebagai penjual sedangkan Allah sebagai pembelinya. Jual beli dengan Allah pada mulanya berdasarkan penawaran dari Allah sendiri, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (As Shaff : 10)

Seorang mu’min, seperti halnya Utsman bin Affan RA, menyambut penawaran Allah ini dengan suka cita. Namun, apa yang dapat dijualnya kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta termasuk dirinya sendiri? Alangkah uniknya, kita ini ciptaan Allah dan milik-Nya belaka namun dapat dibeli oleh-Nya dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan “bebas dari api neraka”. Adakah jual yang lebih menguntungkan dari keselamatan dari api neraka?

Apakah yang dapat diberikan kepada Allah untuk menebus diri ini dari adzab yang pedih? Allah memberikan jawaban yang jelas tentang ini dalam huraian ayat tersebut, “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu Mengetahuinya”. (As Shoff: 11)

Artinya, untuk dapat berjual beli dengan Allah, setiap mu’min hendaknya beriman kepada Allah dan Rasulnya, yaitu beriman kepada pengertian syahadat Laailaha illa-llah dan ma’na syahadat Muhammadur Rasulullah dengan sesungguhnya. Kemudian berjihad di jalan Allah baik dengan harta maupun nyawa. Itulah yang dapat diberikan kepada Allah. Maka seruan Allah dan sambutan mu’min ini diabadikan dalam ayat lain dari Kitabullah yang mulia dengan ungkapan,

“Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mü’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar”. (At Taubah: 111)

Apakah yang dituntut dari seorang yang telah menjual dirinya kepada Allah? Pernyataan ayat: “mereka berperang di jalan Allah “, menunjukkan bahwa orang yang beriman siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, untuk menepati perjanjiannya dengan Allah. Seluruh hidupnya merupakan realisasi menepati perjanjian ini.

Konsekuensinya, mu’min dan mu’minah tidak lagi memiliki kebebasan untuk menolak beban tugas yang Allah berikan kepadanya. Dengan demikian ia menjadikan hidupnya untuk berjihad di jalan Allah dan cita-cita tertingginya adalah syahid fi sabilillah. Untuk itu, Allah pasti akan membayar harganya yaitu syurga dan segala keni’matan di dalamnya.

Hakikat Perdagangan

Seorang penjual yang baik tentu akan menjual produk dagangan yang berkualiti. Sehingga semakin tinggi kualiti dagangannya semakin mahal harganya. Karena yang dijual orang yang beriman kepada Allah adalah harta dan dirinya dalam bentuk kerja, maka semua yang dimiliki dan dilakukan mu’min wajib diniatkan untuk Allah. Itulah jalan untuk memperoleh nilai pembelian yang tinggi di sisi Allah.

Dengan jual beli di atas, dalam menjalani hidupnya hendaknya seorang mu’min bersungguh-sungguh untuk mengislamisasikan dirinya dalam hal: keyakinan, cara berfikir, perasaan, maupun perbuatannya. Setelah itu, dia pun wajib menegakkan Islam di dalam rumah tangganya, masyarakat dan bangsanya, bahkan di seluruh dunia. Caranya ialah dengan meneladani mehnah tribulasi orang-orang beriman sebelumnya. Yaitu mereka yang hidup dalam hidayah Allah dan telah membuktikan janji mereka di hadapan Allah.

Kisah Utsman bin Affan RA fan diatas baru segelintir contoh sikap orang beriman dalam mencari redha Allah, beliau berkeyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala berlipat ganda terhadap pengorbanannya, menolong warga Madinah yang menghadapi kemarau panjang dengan pahala berlipat ganda. Bukankah Allah sendiri menyatakan, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”. (Al-hadid: 11).

Selasa, 10 Desember 2013

Ringan di Lidah Namun Besar Pahalanya


Banyak kata…keluar dari lisan kita. Tapi entah berapa yang mengeluarkan sepatah dua patah yang menambah bekal pahala di akhirat nanti. Ya saudaraku…hanya sepatah dua patah kata…yang terasa ringan untuk diucapkan, mudah untuk dihafalkan, dan dapat menambah keimanan kita. Bukankah iman bertambah dan berkurang? Semoga kita tidak lupa untuk mengamalkan sunnah ini dan bersemangat untuk menghafalkan dan mengamalkan do’a dan dzikir lainnya (yang membutuhkan waktu untuk menghafalkan dan mengamalkannya) yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bismillah

Untuk lafadz yang satu ini, mungkin kita sendiri lupa entah kapan mulai mempelajarinya. Ternyata banyak saat-saat yang kita disunnahkan untuk mengluarkan lafadz ini. Yang pertama adalah saat hendak mulai makan. Hei…mungkin langsung ada yang bertanya-tanya, bukankah saat hendak makan doa yang dibaca “Allahumma bariklana…?” Jawabnya, “Bukan saudariku.” Bahkan do’a tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena hanya disebutkan dalam hadits yang lemah riwayat dari Ibnu Sunni. Cukup dengan ‘bismillah’. Maka setan tidak akan dapat ikut makan bersama kita.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Apabila seseorang masuk rumahnya dia menyebut Allah Ta’ala pada waktu masuknya dan pada waktu makannya, maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kalian tidak punya tempat bermalam dan tidak punya makan malam.’ Apabila ia masuk tidak menyebut nama Allah pada waktu masuknya itu, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’, dan apabila ia tidak menyebut nama Allah pada waktu makan, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’” (HR. Muslim)

Adapun jika kita terlupa membaca ‘bismillah’ di awal waktu kita makan, maka kita cukup membasa ‘bismillah awwalahu wa aakhirohu’ di saat kita ingat.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang kamu makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala (bismillah -pen). Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal makannya, maka hendaklah ia mengucapkan,
بِسْمِ اللهِ أوَّلَهُ وَ اخِرَهُ
(Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada akhirnya)’.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Kita juga disunnahkan membaca bismillah ketika kendaraan yang kita kendarai mogok. (HR. Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud III/941)

Subhanallah

Alhamdulillah, dzikir yang satu ini pun sudah kita hafal sejak lama. Dzikir ini dapat kita amalkan setelah sholat sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim) atau kita dzikirkan pula sebelum tidur sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam satu riwayat lain, dibaca sebanyak 34 kali sebelum tidur. Lafadz ini juga disunnahkan untuk diucapkan ketika kita dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menurun (HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135). Dapat pula kita ucapkan ketika kita sedang takjub dengan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (HR. Bukhari)

Adapula lafadz tasbih lainnya yang telah diajarkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai Allah Yang Maha Pengasih, (yaitu),

سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الغَظِيْمِ
ّ
“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, maha suci Allah Yang Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah
سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِ هِ
(HR. Muslim)

Alhamdulillah

Lafadz ini adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya dengan memberikan pujian kepada-Nya. Lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat sebanyak 33 kali dan juga sebelum tidur 33 kali.

Setelah bersin, kita juga disunnahkan mengucapkan alhamdulillah atau alhamdulillah ‘ala kulli haal (HR. Bukhari). Nah, bagi yang mendengar lafadz alhamdulillah dari orang yang bersin, maka berikanlah do’a kepadanya, yaitu

يَر حَمُكَ اللّه

yarhamukallah
“Semoga Allah merahmatimu.”

Kalau sudah mendapat do’a ini, maka orang yang bersin tadi membaca

يَهْدِ يكُمُ اللّهُ و يُصلح بَالَ كُمْ

yahdikumullah wa yuslih baalakum’

“Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”
Keutamaan dzikir alhamdulillah dan dzikir subhanallah juga terdapat dalam hadits berikut,

“Dari Abu Malik al-Asy’ary dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bersuci adalah setengah iman,
الحَمْدُ لِلَّهِ 
memenuhi timbangan, 
dan
سُبْجَانَ اللّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ 
(Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) memenuhi antara tujuh langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Allahu Akbar

Sama seperti dua lafadz sebelumnya, lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat dan sebelum tidur. Setelah shalat sebanyak 33 kali dan sebelum tidur sebanyak 33 kali (dalam riwayat lain 34 kali).

Lafadz Allahu Akbar juga sunnah diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari ciptaan Allah (HR. Bukhari dalam al-Fath). Dan tahukah saudariku, ternyata lafadz ini juga termasuk dzikir yang sunnah diucapkan ketika dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menanjak. (HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135)

Laa ilaha illallah

Alhamdulillah, kita semua tentu telah melafadzkan ini karena inilah salah satu pembeda antara muslim dengan kafir. Tentu saja pelafalan lafadz laa ilaha illallah harus disertai dengan keyakinan hati dan pemaknaan yang benar, bahwa tidak ada ilah atau sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang lafadz ini dalam haditsnya,

“Sebaik-baik dzikir adalah ada لا اله الا الله (tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah).” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Dan sungguh manis ganjaran orang yang yang melafadzkan dzikir ini, sebagaimana dijelaskan oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaah illallah, maka ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di Surga.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Saudaraku tentu juga mengetahui, pernah menjadi tren ‘latah’ yang menyebar di berbagai kalangan. Salah satu ciri latah ini adalah jika seseorang dikagetkan atau terkejut, maka akan keluar kata-kata yang tidak dia sadari. Atau bahkan ia bisa dikontrol oleh orang yang mengejutkannya sehingga berkata-kata atau bertingkah laku yang tidak-tidak. Padahal untuk urusan yang terlihat kecil ini, ternyata telah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz ‘laa ilah illallah’. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan Muslim IV/22208)

Masya Allah

Yang satu ini, seringkali penulis dengar dilafalkan bukan pada tempatnya. Masya Allah memiliki makna “Atas kehendak Allah”. Lafadz ini diucapkan ketika kita takjub melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, baik berupa harta, kondisi fisik atau yang lainnya. Dalam surat Al Kahfi, terdapat tambahan,

“Masya Allah laa quwwata illa billah”

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah.”

Lafadz ini juga berkaitan dengan penyakit ‘ain. Dengan melafadzkan “Masya Allah” ketika kita mengaggumi kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi baik kita sengaja ataupun tidak.

Nah…yang sering menarik pandangan seseorang adalah tingkah dan fisik anak kecil yang menggoda. Pipinya yang lucu, matanya yang nakal dan lain sebagainya. Lalu datanglah pujian dari sanak, saudara atau teman sekitar kita. Namun kita mungkin lupa, bahwa anak juga merupakan anugrah yang dapat terkena ‘ain. Maka, ingatkanlah orang-orang sekitar untuk mengucapkan masya Allah ketika memberikan pujian kepada anak kita. Begitupula dengan kita sendiri ketika memuji anak atau benda milik seseorang, maka ucapkanlah ‘masya Allah’ ini.

Astaghfirullah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Pujian yang paling tinggi adalah la ilaha illallah, sedangkan doa yang paling tinggi adalah perkataan astaghfirullah. Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesakan Allah dan memohon ampunan bagi diri sendiri dan bagi orang-orang mukmin.”

Memohon ampunan dengan lafadz ini sunnah diucapkan sebanyak 3 kali setelah selesai salam dari sholat wajib. Kita juga dapat memohon ampunan sebanyak-banyaknya, sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan hal ini. Begitupula dari contoh perbuatan Rasululllah shallallahu’alaihi wa sallam (padahal beliau sudah diampuni dosanya yang telalu lalu dan akan datang). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohn ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)
Kita sebagai wanita juga diperintah untuk memperbanyak istighfar, sebagaimana dalam hadits berikut,

“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka!”
Seorang wanita dari mereka bertanya, “Wahai Rasululllah, mengapa kami menjadi kebanyakan penghuni neraka?”

Beliau menjawab, “Kalian terlalu banyak melaknat dan ingkar (tidak bersyukur) terhadap (kebaikan) suami, aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya bisa mengalahkan lelaki yang berakal kecuali kalian.”

Ia bertanya, “Apa maksudnya kurang akal dan agama?”

Beliau menjawab, “Persaksian dua orang wanita sama dengan seorang laki-laii dan wanita berdiam diri beberapa hari tanpa shalat.”
(HR. Muslim)

Ini adah lafadz-lafadz dzikir yang ringan di lidah dan mudah untuk dihafal dan diamalkan, insya Allah. Semoga yang ringan ini juga menjadi pemicu untuk menghafal dan mempraktekkan do’a dan dzikir-dzikir lain yang lebih panjang. Barakallahufikunna.


Jumat, 06 Desember 2013

PENJELASAN THINKING EKSTROVERT


THINKING EKSTROVERT
Intisari tentang anda: Kecerdasan Anda Thinking yang berarti merujuk kepada logika Anda, yang membuat Anda rasional dan objektif.  Kecerdasan tersebut dikemudikan bergerak dari luar ke dalam, sehingga Anda mahir menjadi komandan pada satu organisasi.
Sistem operasi otak berada di : Belahan Otak Kiri Lapisan Kelabu (luar) Kecerdasan setara : LQ (Logical Quotient) Peranan : Chief (Komandan) Kelebihan :  Multiplying (Pelipatgandaan) Target : Authority (Wewenang) Harapan : Controling (Pengendalian) Arah Merek : Merek pada proses manajerialnya Tabiat terhadap uang : Mengumpulkan Konstitusi (Bentuk) Jasmani : Piknis yang tipis Kekuatan Jasmani : Tulang dengan sendi yang lembut Fungsi Tubuh : Tulang bergerak cepat
Personaliti tetap yang dapat diriset secara psikometrik : thoughtful, analytical, competitive,reserved, planner, positive, argumentative, forceful, formal, justice
Empat Kata Kunci: Menalar, tulang, mandiri, meluas
Cara Belajar: Menalar bacaan dengan membuat struktur dan skema yg mudah Meningkatkan minat belajar: Dibukakan jalur kemenangan untuk mengalahkan lawannya Klu Diri: Mencari PABRIK untuk menjalankan ‘mesin’nya
Keutamaan SEKOLAH menuju karir di INDUSTRI yang sesuai (Prioritas #1) : Manajemen/kepemerintahan, manufacturing, properti, peternakan
Sekolah menuju PROFESI pilihan lainnya (Prioritas #2) : Ristek,  IT, bisnis pertambangan, ahli konstruksi,bisnis kesehatan, garmen, peneliti, fabrikan, perminyakan, pengeboran, programmer, dokter, apoteker, ekonom, manajer, dosen/guru, property,insinyur, fisikawan, kimiawan, konsultan managemen, teknokrat, birokrat, pajak, produsen, quality control, auditor, ahli strategi, pelatih bola, pembuat kebijakan, system analyst, ahli rekayasa, developer, atlit (pertandingan), dll
Sisi positif yang perlu dibina dan hal yang perlu diwaspadai dari anda sendiri: menyukai kemenangan.  seperti seorang penakluk namun kurang stamina untuk terus menerus bertanding, kebenaran empirik hanya datang dari pengalaman dirinya namun tidak suka kebenaran dari nasihat orang lain, pandai  mengakumulasi keuntungan dengan coverage yang luas namun kurang mahir dalam membuat prioritas jangka panjang, perannya sangat sirkulatif di semua entitasnya hanya sayang kurang pandai membaca aspirasi, memiliki siklus hidup
Penjelasan Hasil THINKING EKSTROVERT
Te adalah singkatan dari Thinking extrovert. Jika huruf T berdiri sendiri merupakan identitas sebagai mesin kecerdasan. Menurut kon- sep STIFIn ragam mesin kecerdasan hanya ada lima, dan T adalah salah satu diantara 5 mesin kecerdasan tersebut. Identitas mesin kecerdasan berubah menjadi kepribadian ketika mesin kecerdasan digandengkan dengan jenis kemudi di belakangnya. Jenis kemudi kecerdasan hanya ada dua, yaitu i (introvert) dan e (ekstrovert). Dengan demikian Te su- dah menjadi identitas kepribadian. T ditulis dengan huruf besar karena pengaruhnya sebagai mesin kecerdasan lebih besar dari e yang ditulis dengan huruf kecil yang berperan hanya sebagai kemudi kecerdasan.
Pengertian sederhana dari Thinking extrovert adalah jenis ke- pribadian yang berbasiskan kecerdasan logika yang proses kerjanya dikemudikan dari luar dirinya menuju ke dalam dirinya. Kepribadian Te ini memiliki kekhasan karena memiliki kemampuan menalar secara meluas dalam bentuk pengendalian manajemen dan logika yang lebih efektif yang melebihi delapan jenis kepribadian yang lain. Kelebihan ini dapat disepadankan dengan kecerdasan logika atau disebut LQ (Logical Quotient).
Sistem operasi pada tipe Te berada di belahan otak bagian atas di sebelah kiri atau disebut sebagai otak besar kiri atau diringkas otak kiri. Pada otak kiri tersebut yang menjadi kemudi kecerdasannya berada di lapisan abu-abu yang letaknya di bagian luar atau permukaan otak. Otak kiri abu-abu itulah yang menjadi sistem operasi tipe Te. Lapisan yang berwarna abu-abu memiliki tekstur otak yang lebih longgar karena mengandung dendrit lebih sedikit. Kerapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan lapisan bagian dalam tersebut membuat kemudi kecerdasan bergerak dari luar ke dalam. Hal ini menyebabkan ‘tuan yang punya badan’ menjadi lebih beradaptasi dengan lingkung- an luarnya, karena dari lingkuangan luar itulah ia mendapatkan energi untuk memutar kepalanya. Energi yang datang untuk mengolah otak kirinya datang dari luar dirinya.
Mesin kecerdasan T sesungguhnya identik dengan tulang. Me- reka memiliki tulang yang besar dan kuat. Dengan bentuk tubuh (kons- titusi) yang piknis terlihat unsur tulang secara proporsional menjadi dominan. Disebut piknis karena ukuran badan volumenya lebih ke- cil dibanding tipe lain sementara volume tulangnya paling dominan dibanding tipe lain. Akibatnya tulang kerangka menyangga beban yang lebih ringan sehingga mudah bergerak kesana-kemari. Itulah mengapa disebut piknis. Tipe Tetidak memiliki baterai (charger) di dalam dirinya dan justru ia menghadirkan dari luar. Hal inilah yang menyebabkan Te seperti memiliki tulang yang kurang tenaga. Meskipun proporsi tulang lebih dominan dibanding ukuran badannya, namun orang T se- cara umum juga malas bergerak meskipun mereka sebetulnya mudah bergerak. Hal ini disebabkan pada mesin kecerdasan T tenaga yang tersedia cenderung disedot oleh kepala. Padahal penggunaan energi oleh kepala memakan energi yang besar. Disebabkan fungsi kepala yang dominan, tipe T lebih senang jenis pekerjaan yang memerlukan berpikir keras sehingga dapat menyelesai- kan masalah hingga tuntas. Ia dapat menyusun serangkaian logika se- bagai metode untuk menyelesaikan masalah. Hal inilah yang membuat orang T dianggap bertangan dingin. Setiap masalah yang menjadi tang- gungjawabnya dapat diselesaikan dengan baik. Kemudian jika kemam- puan kepala tersebut digabungkan dengan karakter tulang yang kokoh maka akan melahirkan kepribadian yang teguh dan keras kepala.
Jika tipe T nya dikemudikan dari luar ke dalam menjadi tipe Te akan muncul sifat-sifat utama yang adil, objektif, dan menerima argu- mentasi logika. Hal itu membuat Te menyukai berperan layaknya se- orang komandanyang memimpin dengan otoritas penuh untuk me- mastikan keadilan dan logika dapat berjalan secara efektif. Peranannya yang seperti komandan itu diikuti dengan kemampuan pengelolaan dan pengendalian organisasi yang baik. Organisasi akan dikelola seperti pabrik, atau seperti tentara, atau seperti birokrat, atau seperti atasan- bawahan karena otoritas sepenuhnya berada di tangannya. Cara or- ganisasi yang seperti inilah yang kemudian membuatnya berhasil dalam melipatgandakan hasil atau produksi.
Jenis Te memiliki kelebihan secara alamiah yang tercermin dari cara kerjanya yang selalu mencari peluang untuk melipatgandakan. Memperlakukan pekerjaannya dengan mengendalikan proses secara tepat yang menimbulkan produktivitas pelipatgandaan.Kemampuan mengendalikan proses produksi menjadi jalan sukses untuk memper- oleh kekuasaan. Ia akan menjadi sangat terpukul jika pada akhirnya ia tidak diberi otoritas untuk mengambil keputusan. Targetnya adalah mendapatkan otoritas penuh. Dengan otoritas tersebut ia dapat men- gendalikan secara penuh jalannya organisasi.Ia akan mengendalikan organisasi dengan memberikan instruksi, pengarahan, dan briefing- briefing. Pendek kata ia pandai mengumpulkan kekuatan untuk meng- hasilkan kemenangan bagi diri dan organisasinya. Hal itu sejalan de- ngan tabiatnya terhadap uang. Tipe Te adalah tipe yang paling mampu mengelola keuangan dengan cara mengakumulasi atau mengumpulkan. Cara membelanjakan pengeluaran sebenarnya sangat rasional namun punya kemampuan taktis jika ia melihat ada peluang untuk mengaku- mulasi keuntungan.
Kemampuan kepemimpinan melalui managerialship-nya tipe Te sangat bagus. Bahkan ia diberi merek karena kemampuan mana- gerialshipnya yang efektif. Jika ada pertarungan untuk menunjukkan ke- mampuan pengelolaan dan pengendalian organisasi agar organisasinya dapat selalu naik kelas karena selalu menciptakan produksi yang berli- pat ganda maka tipe Te lah sebagai sosok yang akan memenangkannya. Selain karena memang dirinya yang haus kemenangan juga karena me- mang managerialnya memang sistematis dan efektif.
Jika menggunakan sudut pandang dunia psikologi (aliran perilaku) kepribadian Te mesti memiliki sifat perilaku khas yang dapat dibuktikan dan diukur yang berbeda dari delapan kepribadian yang lain. Terda- pat sepuluh item yang bisa dibuktikan keberadaannya dan bisa diukur secara psikometrik. Menurut konsep STIFIn kesepuluh item tersebut menjadi kepribadian tetap yang tidak akan berubah dan akan selalu eksis seiring dengan penambahan umurnya. Sepuluh sifat yang tetap tersebut adalah: thoughtful, analytical, competitive, reserved, planner, positive, argumentative, forceful, formal, justice (bahasa Inggris diper- tahankan supaya definisinya tidak multi tafsir).
Pada umumnya orang Te tidak mengalami masalah dalam hal be- lajar. Pelajaran pada umumnya memerlukan cara kerja otak yang me- nalar, berhitung, dan menstrukturkan. Pada orang Te ia sudah terbiasa menalar bacaan untuk mendapatkan logika dengan membuat struktur dan skema yang memudahkan, karena orang Te sebenarnya tidak ingin terlalu jelimet. Otak kirinya selalu memerlukan ‘fooding’ dalam ben- tuk selalu berpikir atau pada dasarnya ia suka berpikir, baik diminta ataupun tidak diminta. Hasil akhirnya menyebabkan orang Te menjadi orang yang paling berwawasan karena kumpulan buku yang dibacanya cukup lengkap, meski penguasaan setiap topiknya tidak terlalu men- dalam, namun ia sudah mendapat struktur berpikirnya pada setiap ba- caannya. Sehingga kemampuan terhadap pelajaran bukan berasal dari detail mikroskopiknya melainkan dari pengembangan wawasannya.
Cara yang paling efektif untuk memotivasi dirinya adalah diberi kesempatan untuk berkompetisi untuk mengalahkan yang lainnya. Ia merasa dibantu jika selalu dibukakan jalur kemenangan untuk menga- lahkan lawan-lawannya di berbagai peringkat. Dan sebaliknya ia mera- sa hampa dan geregetan jika ia tidak dapat bertarung karena ia merasa memiliki kapasitas untuk mengalahkan lawan-lawannya.
Prioritas utama jika ingin memilih jurusan dan memilih profesi sebaiknya diarahkan pada satu diantara empat pilihan industri berikut ini, yaitu manajemen/kepemerintahan, manufacturing , properti, peter- nakan. Selanjutnya dapat dipilih diantara pilihan jurusan atau profesi seperti pilihan berikut ini: ristek, IT, bisnis pertambangan, ahli konstruk- si, bisnis kesehatan, garmen, peneliti, fabrikan, perminyakan, penge- boran, programmer, dokter, apoteker, ekonom, manajer, dosen/guru, property,insinyur, fisikawan, kimiawan, konsultan managemen, tek- nokrat, birokrat, pajak, produsen, quality control, auditor, ahli strategi, pelatih bola, pembuat kebijakan, system analyst, ahli rekayasa, deve- loper, atlit (pertandingan), dll.
Mengapa memerlukan dan lain-lain karena semakin kesini profesi semakin beragam. Namun jika ingin memilih jurusan ataupun profesi patokan bagi tipe Te adalah mempertimbangkan empat kata kuncinya, yaitu: menalar, tulang, mandiri, dan meluas. Artinya jurusan atau profesi yang dipilihnya didominasi oleh unsur-unsur yang memerlukan daya nalar, mengandalkan pendirian yang kuat atau bahkan profesi yang betul-betul mengandalkan tulang dalam pengertian sesungguhnya (spt atlit balap sepeda, tae kwon do, lari, renang khusus gaya dada, dsb) dan dapat memanfaatkan kemandiriannya dalam bekerja, serta bidang- bidang yang memerlukan logika umum yang meluas seperti manaje- men, menjadi komandan, atau birokrat.
Sebagai pribadi yang utuh tipe Te memiliki sisi-sisi diametral sebagai berikut: menyukai kemenangan. seperti seorang penakluk namun kurang stamina untuk terus menerus bertanding, kebenaran empirik hanya datang dari pengalaman dirinya namun tidak suka ke- benaran dari nasihat orang lain, pandai mengakumulasi keuntungan dengan coverage yang luas namun kurang mahir dalam membuat pri- oritas jangka panjang, perannya sangat sirkulatif di semua entitasnya hanya sayang kurang pandai membaca aspirasi, memiliki siklus hidup yang dinamis namun terlalu normatif. Oleh karena itu perlu berwaspa- da dengan kelemahannya dan berusaha mengekploitasi kelebihannya. Biasanya jika kelebihannya bergerak membaik maka secara otomatis kelemahannya tertutup dengan sendirinya.
Disebabkan karena kemampuan pengendaliannya terhadap span of control yang besar, kemampuan logika umumnya, kemampuannya dalam melipatgandakan hasil, karakternya yang seperti tulang (atau iba- rat besi yang kokoh), bahkan keberadaan tulangnya yang lebih domi- nan dibanding ukuran badannya menjadikan orang Te akan jauh lebih sukses kalau ia memiliki PABRIK untuk menjalankan ‘mesin’nya. Orang Telebih mengkonkritkan usahanya dalam wujud yang nyata dalam bentuk pabrik akan mesin pelipatgandaannya dapat berjalan dengan baik. Orang Tememiliki kemampuan untuk meraih TAHTA dimanapun jika segala macam unsur sumberdaya yang ada di bawah kekuasaan- nya dikelola secara mekanistik seolah-olah seperti pabrik. Atau jika ia memiliki pabrik dalam pengertian yang sesungguhnya maka akan memiliki kedudukan di masyarakat sebagai tokoh yang layak diberi tahta yang lebih tinggi. Kebesaran pabriknya akan sejalan dengan ke- besaran tahtanya atau kekuasaannya. Karena pada dasarnya tipe Te memang menjadi orang yang paling dicari tahta, karena pada dirinya melekat kharisma pemegang otoritas. Jika diberi amanah akan dijalankan dengan baik.

Sabtu, 30 November 2013

Sakitnya Seorang Muslim adalah penyuci dosa

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :

“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”...

Allah memerintahkan :

1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.

2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya

3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.

4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”

Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau pe­nyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di­jadikan penebus dosanya oleh Allah,” (HR Bukhari-Muslim).

Sabtu, 16 November 2013

Manfaat Shodaqoh..


Rajin Sedekah, Rezeki Melimpah


Keuntungan sedekah tidak dapat dihitung dengan rumus matematika konvensional. Yusuf Mansur memopulerkan istilah matematika sedekah. Mengacu kepada ajaran Islam bahwa sedekah satu akan dilipatkan menjadi sepuluh, Yusuf Mansur kemudian membuat rumus demikian: sepuluh ribu dikurangi seribu untuk sedekah, hasilnya adalah sembilan belas ribu. Jika dikurangi dua ribu untuk sedekah, hasilnya menjadi dua puluh delapan ribu.

Itulah rumus matematika sedekah, yang merupakan perasan dari sejumlah keterangan dalam Alquran dan hadis. Allah sendiri berulang kali menegaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Dalam pandangan awam, harta memang berkurang ketika dipakai untuk sedekah. Tetapi, dalam kaca mata iman tidaklah demikian.

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah, dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dirugikan.” [QS Al-Baqarah/2: 272].

Perhatikan, ayat di atas menggarisbawahi “harta yang baik” dan “di jalan Allah”. Karena, sangat boleh jadi orang melakukan sedekah tetapi dengan harta yang tidak baik. Misalnya, membangun masjid dari praktik korupsi, mendirikan pesantren dari hasil pelacuran, membantu panti asuhan dari bisnis narkoba, dan seterusnya. Tidak sedikit pula orang yang mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk menyukseskan perbuatan atau kegiatan yang tidak baik. Lihatlah para konglomerat yang rela merogoh kocek miliaran rupiah untuk menyelenggarakan pagelaran Miss World, kandidat pemimpin yang mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membeli suara, tersangka hukum yang memberikan gratifikasi triliunan rupiah untuk menyuap hakim, dan seterusnya.

Harta tidak baik yang digunakan di jalan Allah dan harta baik yang digunakan di jalan setan, keduanya tidak bernilai sedekah di mata Allah. Sedekah harus memenuhi dua kriteria, sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas, yaitu harta baik yang disalurkan di jalan Allah. Itulah harta yang tidak sia-sia, karena Allah akan memberikan ganti secara berlipat ganda.

Janji Allah tidak pernah dusta. Kewajiban orang beriman adalah meyakininya dengan segenap hati. Rasulullah sendiri pernah menginformasikan, “Tiada sehari pun sekalian hamba memasuki suatu pagi, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya’. Sementara yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya’.” [HR Bukhari dan Muslim].

Mengelola harta memang bukan perkara mudah. Harta kerap mendatangkan keberuntungan, tetapi, jika salah menggunakan, harta justru menghasilkan kebuntungan. Karena itu, Islam memberikan panduan lengkap seputar cara mengelola harta agar kepemilikan harta berujung keberuntungan, bukan kebuntungan. Salah satunya adalah lewat ajaran sedekah. Harta yang disedekahkan, itulah harta yang sebenarnya, karena akan kekal sampai di alam baka. Yang berada di tangan tidak lain akan menjadi hak ahli waris.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bertanya, “Siapakah di antara kamu yang lebih menyukai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?” Serentak para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, tiada seorang pun dari kami, melainkan hartanya adalah lebih dicintainya.” Beliau kemudian bersabda, “Sungguh harta sendiri ialah apa yang telah terdahulu digunakannya, sedangkan harta ahli warisnya adalah segala yang ditinggalkannya (setelah dia mati).” [HR Bukhari dan Muslim].

Hadis di atas, dengan demikian, secara tidak langsung mengingatkan bahwa harta yang ada di tangan kita sebenarnya hanya titipan Allah. Supaya manfaatnya masih dapat dirasakan sampai kita kembali ke akhirat, maka harta itu harus dinafkahkan di jalan kebaikan semasih hidup di dunia. Lebih membahagiakan, balasan Allah bahkan sering tidak harus menunggu di akhirat, tetapi langsung Dia tunaikan ketika kita masih hidup di dunia berupa rezeki yang melimpah.

Rezeki adalah segala pemberian Allah untuk memelihara kehidupan. Dalam hidup, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu Rezeki Kasbi (bersifat usaha) dan Rezeki Wahbi (hadiah). Rezeki Kasbi diperoleh lewat usaha dan kerja. Tetapi Rezeki Wahbi datangnya di luar prediksi manusia, kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Karena Rezeki Wahbi merupakan wujud sifat rahim Allah, maka orang yang gemar melakukan sedekah sangat berpeluang mendapatkan rezeki jenis terakhir ini. Indah Allah melukiskan dalam Alquran.

“Permisalan (nafkah yang dikeluarkan) orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-Baqarah/2: 261].

Sangat banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah yang mengungkap keuntungan sedekah. Setiap kita berpeluang mendapatkan keuntungan itu sepanjang gemar melakukan sedekah disertai keyakinan mantap terhadap kemurahan Allah. Tidak ada ceritanya kemiskinan karena sedekah. Tidak pula orang membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan.

Sebab itu, jangan lagi berusaha menotal keuntungan sedekah dengan rumus matematika seperti umumnya kita menotal hasil keuntungan perdagangan atau penjualan barang-barang kita.