Mau Pasang Iklan, Hub Biro Iklan, Aulia Advertising, Telp 0813 8468 1151
Aulia PROPERTY,MEMASARKAN BALE PERIGI, PURI SINAR PAMULANG, PESONA ALAM CIPUTAT, CLUSTER Tsb Ready Stock Telp 081384681151

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 0856 7386 103, 0813 8468 1151
Tampilkan postingan dengan label Alternatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alternatif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

Sedekah Membawa Berkah

Hidup dari keluarga berkecukupan dan keturunan ulama besar, menjadi tokoh pemuka agama Islam yang dikenal luas terlebih dalam hal sedekah, usia yang masih terbilang muda, Ustadz Yusuf Mansur. Banyak usaha yang dimiliki beliau dan beliau juga merupakan pimpinan Pondok pesantren Tahfidz Daarul Quran. Beliau pun selalu melakukan kegiatan positif untuk kemasyarakatan yang mana menekankan pada sosial. Berbagi terhadap anak yatim, berbuka puasa bersama anak yatim dan lain sebagainya.
Beliau lahir dalam keluarga seniman Betawi yang memiliki kultur religius yang tinggi, menjadikan beliau sudah akrab dengan nilai – nilai keagamaan. Kesehariannya sedari kecil berada di lingkungan Madrasah Al Mansyuriah, di dalam masjid dekat jembatan lima, kampung sawah tepatnya.
Semasa sekolah lanjutan menengah, pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 dari pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrif’ah tergolong peserta didik yang cerdas. Demikian dibuktikan saat keluar sebagai lulusan terbaik Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat pada tahun 1992.
Usai lulus sekolah lanjutan, beliau melanjutkan ke jurusan informatika. Namun disayangkan, kuliah terbengkalai. Beliau lebih condong balapan motor.
Pada tahun 1996, pria yang akrab disapa dengan sebutan ustadz Yusuf Mansur bernama lengkap Jam’an Nurkhatib Mansur terjun di bisnis informatika.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini menggambarkan kisah hidup beliau. Bukan sukses digapai, cobaan mendera. Bisnis bangkrut terlilit hutang yang jumlahnya milyaran dan beliau pun harus merasakan dinginnya jeruji besi hotel prodeo. Dua kali beliau mengalami getirnya hidup yang lagi – lagi kembali mendekam dalam bui lantaran terlilit hutang. Beliau acapkali diancam oleh sang penagih hutang.
Dalam mengarungi perjalanan memperbaiki hidup, bertemulah beliau dengan sang gadis pujaan hati. Bersama sang istri, beliau mencoba memperbaiki hidup.
Tanggal 9 September 1999, beliau beliau berniat membiayai satu anak yatim dan mendatangi Sekolah Menengah Pertama di Cipondoh, Tangerang. Uniknya, disana, justru anak yatim bukanlah direkomendasikan sebagai anak asuh melainkan menjadi pendamping hidup. Rekomendasi itu menjadi rencana Tuhan yang terindah dan terbaik untuk beliau. Siti Maemunah yang akrab disapa Mumun menjalin ta’aruf dengan beliau. Pasangan ini awalnya menikah sirih pada Ramadan tahun 1999 di kediaman guru beliau, Bilangan Bogor. Setahun kemudian, tepatnya 9 September 2000, pernikahan diresmikan di KUA Tangerang. Kala menikah, usia keduanya terbilang masih sangatlah muda, beliau berusia 23 tahun dan pasangan berusia 14 tahun.
Pada tanggal 29 September 2001, bayi perempuan yang diberi nama Wirda Salamah Ulya lahir dari rahim sang istri, Mumun. Lalu, lahir kembali putri kedua, Qumii rahmatul Qulmul. Dalam pernikahan, keduanya benar – benar mengalami pahit getirnya membangun perekonomian bahtera rumah tangga. Setahun tidur dengan kasur yang supertipis dengan ranjang besi yang berderit kala bergerak, ranjang sejarah peninggalan ibunda beliau. Pengalaman hidup serba kekurangan, tak cukup kuat melunturkan cinta di hati keduanya. Hidup diisi dengan tawa dan canda meski ekonomi serba kekurangan.
Pada masa tahanan pertama, Ustadz Yusuf Mansur mulailah menghafal Al Quran. Ada kisah gurauan tersendiri yang tak bisa terlupakan dalam benak beliau.
Setelah mengalami masa kelam keluar masuk penjara, beliau mulai bangkit kembali dan menuju kemilau cahaya hidup. Beliau kembali memulai bisnisnya. Dari ketekunan, keuletan serta ilmu sedekah yang diyakini beliau, bisnis terus berkembang.

Kehidupan beliau bersama keluarga bisa dibilang harmonis. Keharmonisan demikian diperlihatkan dari suka duka yang selalu dirasakan bersama. Tak kenal lelah mengarungi bahtera hidup. Keharmonisan itu pun mampu mengantarkan beliau mengenal dan akrab dengan orang – orang berpengaruh baik di dalam maupun luar negeri mulai dari kalangan orang biasa hingga menyandang predikat Al Hafidz. Bahkan, mampu mendatangkan orang – orang tersebut untuk lebih jauh mengajarkan ajaran Islam dan berbagi pengalaman di negeri kelahiran beliau, Indonesia.
Awal mula kesuksesan karir beliau dimulai dari perkenalannya dengan sebuah LSM. Selama di LSM itulah, beliau meluncurkan buku pertamanya yaitu Wisata Hati Mencari Tuhan yang Hilang. Buku dibuatnya ketika masih mendekam dalam penjara, berisi tentang untaian curahan hati beliau. Tanpa diduga, buku tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Lantas, dari sanalah, beliau kebanjiran order bedah buku dan sebagai penceramah agama.
Ditengah ceramahnya, beliau selalu menyisipkan ilmu sedekah yang disertai dengan berbagai keajaiban dan kisah nyata. Karir beliau semakin melejit menuju keemasan. Dipertemukanlah beliau dengan Yusuf Ibrahim, seorang produser dari salah satu label ternama yang menggandengnya menggarap kaset tausiah Kun Fayakun, The Power of Giving dan Keluarga. Kemudian, bersama Wisata Hati dan Sinemart, diluncurkan Kasih Hati yang menyerukan keutamaan sedekah melalui tayangan berdasarkan kisah nyata. Disamping hal terkait, beliau juga menggagas Program Pembibitan Penghafal Al Quran atau PPPA, menyiapakn calon – calon penghafal Al Quran dan menjadi ladang sedekah bagi keluarga besar Wisata Hati. Beberapa buku karya milik beliau yang turut pula sukses diantaranya Buat Apa Susah, Suasah itu Mudah, Allah Maha Penolong, Allah Maha Pemurah, Kado Ingat Mati, Kaya Lewat Jalan Tol, Allah Maha Pemberi, membumikan rahmat Allah dan Allah Maha Pelindung.
Ustadz Yusuf Mansur sungguh kisah hidupnya from zero to hero. Layak menjadi tokoh perubahan. Bermula dari kebohongan dengan menjual tanah orang tua dan adanya kesadaran untuk bertaubat. Ilmu sedekah menjadi acuan setiap langkah. Do’a dan dukungan dari orang tua utamanya sang ibu menjadi prioritas kesuksesan yang didapat oleh beliau.
Telah dituangkan dalam Firman Allah SWT
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( QS. Al Baqarah ayat 261 dan 262 ).
Dalam QS. Al An’aam ayat 151 pun dikatakan ”Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua ibu bapak dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS. 6:151).

Sabtu, 30 November 2013

Sakitnya Seorang Muslim adalah penyuci dosa

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :

“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”...

Allah memerintahkan :

1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.

2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya

3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.

4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”

Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau pe­nyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di­jadikan penebus dosanya oleh Allah,” (HR Bukhari-Muslim).

Sabtu, 16 November 2013

Manfaat Shodaqoh..


Rajin Sedekah, Rezeki Melimpah


Keuntungan sedekah tidak dapat dihitung dengan rumus matematika konvensional. Yusuf Mansur memopulerkan istilah matematika sedekah. Mengacu kepada ajaran Islam bahwa sedekah satu akan dilipatkan menjadi sepuluh, Yusuf Mansur kemudian membuat rumus demikian: sepuluh ribu dikurangi seribu untuk sedekah, hasilnya adalah sembilan belas ribu. Jika dikurangi dua ribu untuk sedekah, hasilnya menjadi dua puluh delapan ribu.

Itulah rumus matematika sedekah, yang merupakan perasan dari sejumlah keterangan dalam Alquran dan hadis. Allah sendiri berulang kali menegaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Dalam pandangan awam, harta memang berkurang ketika dipakai untuk sedekah. Tetapi, dalam kaca mata iman tidaklah demikian.

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah, dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dirugikan.” [QS Al-Baqarah/2: 272].

Perhatikan, ayat di atas menggarisbawahi “harta yang baik” dan “di jalan Allah”. Karena, sangat boleh jadi orang melakukan sedekah tetapi dengan harta yang tidak baik. Misalnya, membangun masjid dari praktik korupsi, mendirikan pesantren dari hasil pelacuran, membantu panti asuhan dari bisnis narkoba, dan seterusnya. Tidak sedikit pula orang yang mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk menyukseskan perbuatan atau kegiatan yang tidak baik. Lihatlah para konglomerat yang rela merogoh kocek miliaran rupiah untuk menyelenggarakan pagelaran Miss World, kandidat pemimpin yang mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membeli suara, tersangka hukum yang memberikan gratifikasi triliunan rupiah untuk menyuap hakim, dan seterusnya.

Harta tidak baik yang digunakan di jalan Allah dan harta baik yang digunakan di jalan setan, keduanya tidak bernilai sedekah di mata Allah. Sedekah harus memenuhi dua kriteria, sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas, yaitu harta baik yang disalurkan di jalan Allah. Itulah harta yang tidak sia-sia, karena Allah akan memberikan ganti secara berlipat ganda.

Janji Allah tidak pernah dusta. Kewajiban orang beriman adalah meyakininya dengan segenap hati. Rasulullah sendiri pernah menginformasikan, “Tiada sehari pun sekalian hamba memasuki suatu pagi, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya’. Sementara yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya’.” [HR Bukhari dan Muslim].

Mengelola harta memang bukan perkara mudah. Harta kerap mendatangkan keberuntungan, tetapi, jika salah menggunakan, harta justru menghasilkan kebuntungan. Karena itu, Islam memberikan panduan lengkap seputar cara mengelola harta agar kepemilikan harta berujung keberuntungan, bukan kebuntungan. Salah satunya adalah lewat ajaran sedekah. Harta yang disedekahkan, itulah harta yang sebenarnya, karena akan kekal sampai di alam baka. Yang berada di tangan tidak lain akan menjadi hak ahli waris.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bertanya, “Siapakah di antara kamu yang lebih menyukai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?” Serentak para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, tiada seorang pun dari kami, melainkan hartanya adalah lebih dicintainya.” Beliau kemudian bersabda, “Sungguh harta sendiri ialah apa yang telah terdahulu digunakannya, sedangkan harta ahli warisnya adalah segala yang ditinggalkannya (setelah dia mati).” [HR Bukhari dan Muslim].

Hadis di atas, dengan demikian, secara tidak langsung mengingatkan bahwa harta yang ada di tangan kita sebenarnya hanya titipan Allah. Supaya manfaatnya masih dapat dirasakan sampai kita kembali ke akhirat, maka harta itu harus dinafkahkan di jalan kebaikan semasih hidup di dunia. Lebih membahagiakan, balasan Allah bahkan sering tidak harus menunggu di akhirat, tetapi langsung Dia tunaikan ketika kita masih hidup di dunia berupa rezeki yang melimpah.

Rezeki adalah segala pemberian Allah untuk memelihara kehidupan. Dalam hidup, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu Rezeki Kasbi (bersifat usaha) dan Rezeki Wahbi (hadiah). Rezeki Kasbi diperoleh lewat usaha dan kerja. Tetapi Rezeki Wahbi datangnya di luar prediksi manusia, kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Karena Rezeki Wahbi merupakan wujud sifat rahim Allah, maka orang yang gemar melakukan sedekah sangat berpeluang mendapatkan rezeki jenis terakhir ini. Indah Allah melukiskan dalam Alquran.

“Permisalan (nafkah yang dikeluarkan) orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-Baqarah/2: 261].

Sangat banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah yang mengungkap keuntungan sedekah. Setiap kita berpeluang mendapatkan keuntungan itu sepanjang gemar melakukan sedekah disertai keyakinan mantap terhadap kemurahan Allah. Tidak ada ceritanya kemiskinan karena sedekah. Tidak pula orang membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan.

Sebab itu, jangan lagi berusaha menotal keuntungan sedekah dengan rumus matematika seperti umumnya kita menotal hasil keuntungan perdagangan atau penjualan barang-barang kita.