“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka
dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)
Ketika kota Madinah ditimpa kemarau panjang, harga-hargà barang keperluan di pasar mula meninggi. Sem
entara itu persediaan (stok) makanan semakin berkurangan. Di saat
krisis seperti itu datanglah serombongan kafilah dagang dengan puluhan
ekor unta yang membawa màkanan, tepung, gandum, minyak zaitun, dan
lain-lain dalam jumlah yang cukup untuk selüruh penghuni Madinah. Para
pedagang mulai sibuk mencari siapa pemilik barang dagangan yang sangat
diperlukan warga kota ini. Mereka segera menyambut barang tersebut
dengan harapan mendapat kesempatan sebagai pengedar. Selidik punya
selidik ternyata Utsman bin Affan RA iaitu menantu Rasulullah SAW itulah
pemilik bahan-bahan makanan berharga tersebut.
Para pedagang
tentu saja merasa gembira karena Utsman bin Affan RA termasuk hartawan
yang jujur dan tidak pernah merugikan orang lain. Mereka segera
menawarkan tawaran keuntungan kepada Utsman bin Affan RA.
“Saya
siap memberi anda 4 persen”, kata salah seorang mereka, “Saya beri 5
persen!”, “Saya 10 persen”. “Saya berani 20 persen”, kata mereka
menawarkan pemberiannya. Utsman bin Affan RA tersenyum melihat tingkah
laku para pedagang itu. Beliau berkata, “Saya akan menjualnya kepada
pemberi keuntungan tertinggi”. “Berapa keinginanmu?”, tanya para
pedagang itu.
“Siapa yang dapat memberi 700 kali lipat akan aku berikan”, kata Utsman bin Affan RA pula.
Para pedagang itu terdiam semua karena terkejut dengan permintaan
Utsman bin Affan RA. “Nah, para pedagang sekalian”, kata Utsman bin
Affan RA, “Saksikanlah. Saya akan menjual barang- barang ini kepada
Allah yang memberi pahala 700 kali lipat, bahkan berlipat ganda lebih
dari itu. Tidakkah kalian dengar firman Allah SWT” Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah
dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak
menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu perbuat.. (Al Baqarah: 265)
Kita Berjual Beli dengan ALLAH SWT
Apakah pandangan yang mendasari pemikiran Utsman bin Affan RA dalam
kisah di atas? Hubungan seorang hamba yang beriman (mu’min) dengan Allah
seperti hubungan antara penjual dan pembeli. Mu’min bertindak sebagai
penjual sedangkan Allah sebagai pembelinya. Jual beli dengan Allah pada
mulanya berdasarkan penawaran dari Allah sendiri, “Hai orang-orang yang
beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (As Shaff : 10)
Seorang mu’min, seperti halnya Utsman bin Affan RA, menyambut penawaran
Allah ini dengan suka cita. Namun, apa yang dapat dijualnya kepada Allah
yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta termasuk dirinya
sendiri? Alangkah uniknya, kita ini ciptaan Allah dan milik-Nya belaka
namun dapat dibeli oleh-Nya dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan
“bebas dari api neraka”. Adakah jual yang lebih menguntungkan dari
keselamatan dari api neraka?
Apakah yang dapat diberikan kepada
Allah untuk menebus diri ini dari adzab yang pedih? Allah memberikan
jawaban yang jelas tentang ini dalam huraian ayat tersebut, “(yaitu)
kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
Mengetahuinya”. (As Shoff: 11)
Artinya, untuk dapat berjual
beli dengan Allah, setiap mu’min hendaknya beriman kepada Allah dan
Rasulnya, yaitu beriman kepada pengertian syahadat Laailaha illa-llah
dan ma’na syahadat Muhammadur Rasulullah dengan sesungguhnya. Kemudian
berjihad di jalan Allah baik dengan harta maupun nyawa. Itulah yang
dapat diberikan kepada Allah. Maka seruan Allah dan sambutan mu’min ini
diabadikan dalam ayat lain dari Kitabullah yang mulia dengan ungkapan,
“Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mü’min, diri dan
harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang
pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi
janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah
kemenangan yang besar”. (At Taubah: 111)
Apakah yang dituntut
dari seorang yang telah menjual dirinya kepada Allah? Pernyataan ayat:
“mereka berperang di jalan Allah “, menunjukkan bahwa orang yang beriman
siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, untuk menepati
perjanjiannya dengan Allah. Seluruh hidupnya merupakan realisasi
menepati perjanjian ini.
Konsekuensinya, mu’min dan mu’minah
tidak lagi memiliki kebebasan untuk menolak beban tugas yang Allah
berikan kepadanya. Dengan demikian ia menjadikan hidupnya untuk berjihad
di jalan Allah dan cita-cita tertingginya adalah syahid fi sabilillah.
Untuk itu, Allah pasti akan membayar harganya yaitu syurga dan segala
keni’matan di dalamnya.
Hakikat Perdagangan
Seorang
penjual yang baik tentu akan menjual produk dagangan yang berkualiti.
Sehingga semakin tinggi kualiti dagangannya semakin mahal harganya.
Karena yang dijual orang yang beriman kepada Allah adalah harta dan
dirinya dalam bentuk kerja, maka semua yang dimiliki dan dilakukan
mu’min wajib diniatkan untuk Allah. Itulah jalan untuk memperoleh nilai
pembelian yang tinggi di sisi Allah.
Dengan jual beli di atas,
dalam menjalani hidupnya hendaknya seorang mu’min bersungguh-sungguh
untuk mengislamisasikan dirinya dalam hal: keyakinan, cara berfikir,
perasaan, maupun perbuatannya. Setelah itu, dia pun wajib menegakkan
Islam di dalam rumah tangganya, masyarakat dan bangsanya, bahkan di
seluruh dunia. Caranya ialah dengan meneladani mehnah tribulasi
orang-orang beriman sebelumnya. Yaitu mereka yang hidup dalam hidayah
Allah dan telah membuktikan janji mereka di hadapan Allah.
Kisah Utsman bin Affan RA diatas baru segelintir contoh sikap orang
beriman dalam mencari redha Allah, beliau berkeyakinan bahwa Allah akan
memberikan pahala berlipat ganda terhadap pengorbanannya, menolong warga
Madinah yang menghadapi kemarau panjang dengan pahala berlipat ganda.
Bukankah Allah sendiri menyatakan, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada
Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan)
pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”.
(Al-hadid: 11).
“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka
dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)
Ketika
kota Madinah ditimpa kemarau panjang, harga-hargà barang keperluan di
pasar mula meninggi. Sementara itu persediaan (stok) makanan semakin
berkurangan. Di saat krisis seperti itu datanglah serombongan kafilah
dagang dengan puluhan ekor unta yang membawa màkanan, tepung, gandum,
minyak zaitun, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup untuk selüruh
penghuni Madinah. Para pedagang mulai sibuk mencari siapa pemilik barang
dagangan yang sangat diperlukan warga kota ini. Mereka segera menyambut
barang tersebut dengan harapan mendapat kesempatan sebagai pengedar.
Selidik punya selidik ternyata Utsman bin Affan RA iaitu menantu
Rasulullah SAW itulah pemilik bahan-bahan makanan berharga tersebut.
Para pedagang tentu saja merasa gembira karena Utsman bin Affan RA
termasuk hartawan yang jujur dan tidak pernah merugikan orang lain.
Mereka segera menawarkan tawaran keuntungan kepada Utsman bin Affan RA.
“Saya siap memberi anda 4 persen”, kata salah seorang mereka, “Saya
beri 5 persen!”, “Saya 10 persen”. “Saya berani 20 persen”, kata mereka
menawarkan pemberiannya. Utsman bin Affan RA tersenyum melihat tingkah
laku para pedagang itu. Beliau berkata, “Saya akan menjualnya kepada
pemberi keuntungan tertinggi”. “Berapa keinginanmu?”, tanya para
pedagang itu.
“Siapa yang dapat memberi 700 kali lipat akan aku berikan”, kata Utsman bin Affan RA pula.
Para pedagang itu terdiam semua karena terkejut dengan permintaan
Utsman bin Affan RA. “Nah, para pedagang sekalian”, kata Utsman bin
Affan RA, “Saksikanlah. Saya akan menjual barang- barang ini kepada
Allah yang memberi pahala 700 kali lipat, bahkan berlipat ganda lebih
dari itu. Tidakkah kalian dengar firman Allah SWT” Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah
dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak
menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu perbuat.. (Al Baqarah: 265)
Kita Berjual Beli dengan ALLAH SWT
Apakah pandangan yang mendasari pemikiran Utsman bin Affan RA dalam
kisah di atas? Hubungan seorang hamba yang beriman (mu’min) dengan Allah
seperti hubungan antara penjual dan pembeli. Mu’min bertindak sebagai
penjual sedangkan Allah sebagai pembelinya. Jual beli dengan Allah pada
mulanya berdasarkan penawaran dari Allah sendiri, “Hai orang-orang yang
beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (As Shaff : 10)
Seorang mu’min, seperti halnya Utsman bin Affan RA, menyambut penawaran
Allah ini dengan suka cita. Namun, apa yang dapat dijualnya kepada Allah
yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta termasuk dirinya
sendiri? Alangkah uniknya, kita ini ciptaan Allah dan milik-Nya belaka
namun dapat dibeli oleh-Nya dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan
“bebas dari api neraka”. Adakah jual yang lebih menguntungkan dari
keselamatan dari api neraka?
Apakah yang dapat diberikan kepada
Allah untuk menebus diri ini dari adzab yang pedih? Allah memberikan
jawaban yang jelas tentang ini dalam huraian ayat tersebut, “(yaitu)
kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
Mengetahuinya”. (As Shoff: 11)
Artinya, untuk dapat berjual
beli dengan Allah, setiap mu’min hendaknya beriman kepada Allah dan
Rasulnya, yaitu beriman kepada pengertian syahadat Laailaha illa-llah
dan ma’na syahadat Muhammadur Rasulullah dengan sesungguhnya. Kemudian
berjihad di jalan Allah baik dengan harta maupun nyawa. Itulah yang
dapat diberikan kepada Allah. Maka seruan Allah dan sambutan mu’min ini
diabadikan dalam ayat lain dari Kitabullah yang mulia dengan ungkapan,
“Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mü’min, diri dan
harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang
pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi
janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah
kemenangan yang besar”. (At Taubah: 111)
Apakah yang dituntut
dari seorang yang telah menjual dirinya kepada Allah? Pernyataan ayat:
“mereka berperang di jalan Allah “, menunjukkan bahwa orang yang beriman
siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, untuk menepati
perjanjiannya dengan Allah. Seluruh hidupnya merupakan realisasi
menepati perjanjian ini.
Konsekuensinya, mu’min dan mu’minah
tidak lagi memiliki kebebasan untuk menolak beban tugas yang Allah
berikan kepadanya. Dengan demikian ia menjadikan hidupnya untuk berjihad
di jalan Allah dan cita-cita tertingginya adalah syahid fi sabilillah.
Untuk itu, Allah pasti akan membayar harganya yaitu syurga dan segala
keni’matan di dalamnya.
Hakikat Perdagangan
Seorang
penjual yang baik tentu akan menjual produk dagangan yang berkualiti.
Sehingga semakin tinggi kualiti dagangannya semakin mahal harganya.
Karena yang dijual orang yang beriman kepada Allah adalah harta dan
dirinya dalam bentuk kerja, maka semua yang dimiliki dan dilakukan
mu’min wajib diniatkan untuk Allah. Itulah jalan untuk memperoleh nilai
pembelian yang tinggi di sisi Allah.
Dengan jual beli di atas,
dalam menjalani hidupnya hendaknya seorang mu’min bersungguh-sungguh
untuk mengislamisasikan dirinya dalam hal: keyakinan, cara berfikir,
perasaan, maupun perbuatannya. Setelah itu, dia pun wajib menegakkan
Islam di dalam rumah tangganya, masyarakat dan bangsanya, bahkan di
seluruh dunia. Caranya ialah dengan meneladani mehnah tribulasi
orang-orang beriman sebelumnya. Yaitu mereka yang hidup dalam hidayah
Allah dan telah membuktikan janji mereka di hadapan Allah.
Kisah Utsman bin Affan RA fan diatas baru segelintir contoh sikap orang
beriman dalam mencari redha Allah, beliau berkeyakinan bahwa Allah akan
memberikan pahala berlipat ganda terhadap pengorbanannya, menolong warga
Madinah yang menghadapi kemarau panjang dengan pahala berlipat ganda.
Bukankah Allah sendiri menyatakan, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada
Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan)
pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”.
(Al-hadid: 11).