Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Sabtu, 30 Desember 2017
Usaha Tangsel Spesialis Sepanduk Kain Dwitama Advertising: Sablon Terpercaya, Sablon, Sablon Manual Spanduk d...
Usaha Tangsel Spesialis Sepanduk Kain Dwitama Advertising: Sablon Terpercaya, Sablon, Sablon Manual Spanduk d...: Hubungi : Nur cahyono ( Dwitama Spanduk Ad...
Minggu, 24 Desember 2017
Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat
Kesabaran Syaikh Ibnu Utsaimin Ketika Sakit Hingga Wafat
Penyakit yang melanda syaikh Ibnu Utsaimin
Dahulu, syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- pernah berkata kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid -hafidzahullah-:
“Ketika aku merasakan sakit pada tubuhku, aku mengira bahwa itu adalah sakit basur (wasir). Dan dulu, aku pernah melakukan operasi untuk penyakit ini sehingga aku kira bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sama. Ketika rasa sakit semakin bertambah, aku kembali ke Rumah Sakit dan aku juga ingin memeriksa mataku karena aku merasakan perih pada mataku. Maka para dokter melakukan analisa dan pengecekan, kemudian mereka mengabariku bahwa aku terkena kanker.”
Dan syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menamai kanker dengan ‘Al-Maradhul Khatir (Penyakit berbahaya)’ dan tidak mau menamainya dengan ‘Al-Maradhul Khabits (Penyakit yang buruk)’. Dan sudah diketahui, bahwa orang-orang arab menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata ketika enggan menamai kenkar dengan Al-Maradhul Khabits karena:
ليس في أفعال الله خبيثا
“Tidak ada yang buruk pada perbuatan-perbuatan Allah”.
Dan pemberian penyakit dan penyembuhannya hanyalah kuasa Allah dan perbuatanNya saja.
Syaikh Al-Munajjid bertanya kepada syaikh Ibnu Utsaimin mengenai penyakit itu setelah beberapa saat, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:
يأتي ويذهب إلا في موضع المرض الأصلي الذي انتشر منه فإنه مستمر
“Rasa sakitnya datang dan pergi kecuali rasa sakit yang ada di bagian asal penyakit tersebut. Maka rasa sakitnya terus terasa di bagian itu”
Walau beliau sakit kanker, namun mengajar dan memberi fatwa selalu beliau lakoni.
Kesabaran syaikh Ibnu Utsaimin menahan penyakit kanker
Sebagian murid syaikh Ibnu Utsaimin memerhatikan ketika beliau mengajar, kerap kali beliau mengangkat suara seperti orang yang dicambuk, namun beliau tetap menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Dan syaikh Ibnu Utsaimin sangat enggan untuk diberi obat penenang, karena obat itu menjadikan beliau tidur akhirnya tidak dapat shalat malam dan mengajar.
Dan syaikh Ibnu Utsaimin memeliki angan-angan sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian masyaikh, bahwa beliau berkata:
أريد أن أموت قريبا من الكعبة وأنا أنشر العلم
“Aku ingin wafat dekat dengan ka’bah dalam keadaan mengajar ilmu”
Syaikh Ibnu Utsaimin berkeyakinan bahwa menyebarkan ilmu termasuk amalan terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Maka dari itu, pada tanggal 29 ramadhan ketika beliau di Mekkah, keletihan terus bertambah pada diri syaikh Ibnu Utsaimin. Maka dokter memutuskan agar syaikh Ibnu Utsaimin dibawa ke Jeddah untuk perawatan intensif. Namun keadaan beliau membaik ketika di waktu ashar. Dan syaikh Ibnu Utsaimin pun akhirnya meminta agar beliau dikembalikan ke Mekkah walaupun para dokter melarangnya. Syaikh Ibnu Utsaimin pun berkata:
لا تحرمونا هذا الأجر فهذه آخر ليلة من رمضان
“Jangan cegah aku untuk mendapatkan pahala ini. Karena sekarang adalah malam terakhir bulan ramadhan”.
Dan benar, syaikh Ibnu Utsaimin pun kembali ke Mekkah dengan pengawasan para dokter. Beliaupun masuk ke dalam ruangan khusus. Dan beliaupun minta air wudhu kemudian beliau shalat dan meminta izin agar bisa mengajar. Beliaupun akhirnya mengajar di malam terakhir bulan ramadhan.
Detik-detik wafatnya beliau
Ketika beliau terbangun dari koma, beliau langsung membaca Al-Quran dan dzikir. Dan akhir ayat yang beliau baca adalah:
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ
“Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya” (QS. Al-Anfal: 11)
Ruh beliau pun dicabut pada jam setengan dua siang. Beliau wafat pada tanggal 15 syawwal 1421 H. Dan beliau dikuburkan di Mekkah dekat dengan guru beliau ‘syaikh bin Baaz’ -rahimahumallah-.
Karamah beliau
Orang-orang yang mencuci jenazah beliau melihat keindahan rupa beliau, dan mudahnya beliau dicuci dan dibersihkan, sampai mereka mengira bahwa syaikh Ibnu Utsaimin sudah dicuci sebelum dibawa ke tempat pengurusan jenazah.
Semoga Allah merahmati seluruh masyaikh kita dan guru-guru kita.
رحم الله الشيخ ابن عثيمين وأسكنه في الفردوس الأعلى
“Semoga Allah merahmati syaikh Ibn Utsaimin dan menempatkan beliau di surga Firdaus tertinggi”
Semoga kisah ini menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat dalam belajar, mengajar, dan beribadah kepada Allah.
Refrensi: Fath Dzii Al-Jalaal Wa Al-Ikram Li Ibn Utsaimiin 1/36
Diterjemahkan dengan sedikit perubahan oleh: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry
Sumber: http://www.alamiry.net/2017/12/kesabaran-syaikh-ibnu-utsaimin-ketika-sakit-hingga-wafat.html
Penyakit yang melanda syaikh Ibnu Utsaimin
Dahulu, syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- pernah berkata kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid -hafidzahullah-:
“Ketika aku merasakan sakit pada tubuhku, aku mengira bahwa itu adalah sakit basur (wasir). Dan dulu, aku pernah melakukan operasi untuk penyakit ini sehingga aku kira bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sama. Ketika rasa sakit semakin bertambah, aku kembali ke Rumah Sakit dan aku juga ingin memeriksa mataku karena aku merasakan perih pada mataku. Maka para dokter melakukan analisa dan pengecekan, kemudian mereka mengabariku bahwa aku terkena kanker.”
Dan syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menamai kanker dengan ‘Al-Maradhul Khatir (Penyakit berbahaya)’ dan tidak mau menamainya dengan ‘Al-Maradhul Khabits (Penyakit yang buruk)’. Dan sudah diketahui, bahwa orang-orang arab menamai kanker dengan Al-Maradhul Khabits. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata ketika enggan menamai kenkar dengan Al-Maradhul Khabits karena:
ليس في أفعال الله خبيثا
“Tidak ada yang buruk pada perbuatan-perbuatan Allah”.
Dan pemberian penyakit dan penyembuhannya hanyalah kuasa Allah dan perbuatanNya saja.
Syaikh Al-Munajjid bertanya kepada syaikh Ibnu Utsaimin mengenai penyakit itu setelah beberapa saat, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:
يأتي ويذهب إلا في موضع المرض الأصلي الذي انتشر منه فإنه مستمر
“Rasa sakitnya datang dan pergi kecuali rasa sakit yang ada di bagian asal penyakit tersebut. Maka rasa sakitnya terus terasa di bagian itu”
Walau beliau sakit kanker, namun mengajar dan memberi fatwa selalu beliau lakoni.
Kesabaran syaikh Ibnu Utsaimin menahan penyakit kanker
Sebagian murid syaikh Ibnu Utsaimin memerhatikan ketika beliau mengajar, kerap kali beliau mengangkat suara seperti orang yang dicambuk, namun beliau tetap menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Dan syaikh Ibnu Utsaimin sangat enggan untuk diberi obat penenang, karena obat itu menjadikan beliau tidur akhirnya tidak dapat shalat malam dan mengajar.
Dan syaikh Ibnu Utsaimin memeliki angan-angan sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian masyaikh, bahwa beliau berkata:
أريد أن أموت قريبا من الكعبة وأنا أنشر العلم
“Aku ingin wafat dekat dengan ka’bah dalam keadaan mengajar ilmu”
Syaikh Ibnu Utsaimin berkeyakinan bahwa menyebarkan ilmu termasuk amalan terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Maka dari itu, pada tanggal 29 ramadhan ketika beliau di Mekkah, keletihan terus bertambah pada diri syaikh Ibnu Utsaimin. Maka dokter memutuskan agar syaikh Ibnu Utsaimin dibawa ke Jeddah untuk perawatan intensif. Namun keadaan beliau membaik ketika di waktu ashar. Dan syaikh Ibnu Utsaimin pun akhirnya meminta agar beliau dikembalikan ke Mekkah walaupun para dokter melarangnya. Syaikh Ibnu Utsaimin pun berkata:
لا تحرمونا هذا الأجر فهذه آخر ليلة من رمضان
“Jangan cegah aku untuk mendapatkan pahala ini. Karena sekarang adalah malam terakhir bulan ramadhan”.
Dan benar, syaikh Ibnu Utsaimin pun kembali ke Mekkah dengan pengawasan para dokter. Beliaupun masuk ke dalam ruangan khusus. Dan beliaupun minta air wudhu kemudian beliau shalat dan meminta izin agar bisa mengajar. Beliaupun akhirnya mengajar di malam terakhir bulan ramadhan.
Detik-detik wafatnya beliau
Ketika beliau terbangun dari koma, beliau langsung membaca Al-Quran dan dzikir. Dan akhir ayat yang beliau baca adalah:
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ
“Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya” (QS. Al-Anfal: 11)
Ruh beliau pun dicabut pada jam setengan dua siang. Beliau wafat pada tanggal 15 syawwal 1421 H. Dan beliau dikuburkan di Mekkah dekat dengan guru beliau ‘syaikh bin Baaz’ -rahimahumallah-.
Karamah beliau
Orang-orang yang mencuci jenazah beliau melihat keindahan rupa beliau, dan mudahnya beliau dicuci dan dibersihkan, sampai mereka mengira bahwa syaikh Ibnu Utsaimin sudah dicuci sebelum dibawa ke tempat pengurusan jenazah.
Semoga Allah merahmati seluruh masyaikh kita dan guru-guru kita.
رحم الله الشيخ ابن عثيمين وأسكنه في الفردوس الأعلى
“Semoga Allah merahmati syaikh Ibn Utsaimin dan menempatkan beliau di surga Firdaus tertinggi”
Semoga kisah ini menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat dalam belajar, mengajar, dan beribadah kepada Allah.
Refrensi: Fath Dzii Al-Jalaal Wa Al-Ikram Li Ibn Utsaimiin 1/36
Diterjemahkan dengan sedikit perubahan oleh: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry
Sumber: http://www.alamiry.net/2017/12/kesabaran-syaikh-ibnu-utsaimin-ketika-sakit-hingga-wafat.html
MENGUCAPKAN NATAL.
MENGUCAPKAN NATAL.
Sebagian orang menganggap ucapan natal itu tidaklah bermasalah, apalagi yang yang berpendapat demikian adalah mereka orang-orang kafir. Namun hal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim mengucapakan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang kafir tersebut.
Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan toleransi dalam beragama!?
Islam mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji. Tidak hanya perlakuan baik terhadap sesama muslim, namun juga kepada orang kafir. Bahkan seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah[60]: 8)
Namun hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bersikap toleransi dalam agama yang harus dilakukan oleh seorang muslim kepada orang-orang kafir. Sebagian orang menganggap bahwa mengucapkan ucapan selamat hari natal dan tahun baru adalah suatu bentuk perbuatan baik kepada orang-orang nashrani. Namun patut dibedakan antara berbuat baik (ihsan) kepada orang kafir dengan bersikap loyal (wala) kepada orang kafir
Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal
1- Bukan perayaan kaum muslimin.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri(HR.Ahmad, shahih).
Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.
2- Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal.
Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda.
Begitu juga dengan seorang muslim mengucapkan selamat natal dan tahun baru kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkan nya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.(QS. Al-Kafirun: 6)
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗ وَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَـنَّةَ وَمَأْوٰٮهُ النَّارُ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharam kan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."(QS.Al-Ma'idah 5:Ayat 72)
3- Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru.
Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah.
Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan oarang kafir.
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah[60]: 4)
4- Nabi melarang mendahului ucapan salam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.
5- Menyerupai orang kafir
Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal dan tahun baru. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum muslimin untuk menyerupai kaum kafir.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Penutup.:Ketahuilah wahai kaum muslimin, perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar jika kita tidak mengetahuinya. Mengucap kan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat ulang tahun,selamat hari ibu dan lain-lain yang ada kaitannya dengan perayaan-perayaan bid'ah ), bagaimana lagi mengucap kan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih terlarang lagi.
Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus)
Allah Ta’ala telah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًا ۖ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ
"Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah itu ada lah (hal yang) besar."(QS.An-Nuur 24: Ayat 15)
Semoga Bermanfa'at.
Sebagian orang menganggap ucapan natal itu tidaklah bermasalah, apalagi yang yang berpendapat demikian adalah mereka orang-orang kafir. Namun hal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim mengucapakan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang kafir tersebut.
Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan toleransi dalam beragama!?
Islam mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji. Tidak hanya perlakuan baik terhadap sesama muslim, namun juga kepada orang kafir. Bahkan seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah[60]: 8)
Namun hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bersikap toleransi dalam agama yang harus dilakukan oleh seorang muslim kepada orang-orang kafir. Sebagian orang menganggap bahwa mengucapkan ucapan selamat hari natal dan tahun baru adalah suatu bentuk perbuatan baik kepada orang-orang nashrani. Namun patut dibedakan antara berbuat baik (ihsan) kepada orang kafir dengan bersikap loyal (wala) kepada orang kafir
Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal
1- Bukan perayaan kaum muslimin.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri(HR.Ahmad, shahih).
Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.
2- Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal.
Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda.
Begitu juga dengan seorang muslim mengucapkan selamat natal dan tahun baru kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkan nya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.(QS. Al-Kafirun: 6)
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗ وَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَـنَّةَ وَمَأْوٰٮهُ النَّارُ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharam kan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."(QS.Al-Ma'idah 5:Ayat 72)
3- Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru.
Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah.
Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan oarang kafir.
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah[60]: 4)
4- Nabi melarang mendahului ucapan salam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.
5- Menyerupai orang kafir
Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal dan tahun baru. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum muslimin untuk menyerupai kaum kafir.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Penutup.:Ketahuilah wahai kaum muslimin, perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar jika kita tidak mengetahuinya. Mengucap kan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat ulang tahun,selamat hari ibu dan lain-lain yang ada kaitannya dengan perayaan-perayaan bid'ah ), bagaimana lagi mengucap kan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih terlarang lagi.
Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus)
Allah Ta’ala telah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًا ۖ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ
"Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah itu ada lah (hal yang) besar."(QS.An-Nuur 24: Ayat 15)
Semoga Bermanfa'at.
Langganan:
Postingan (Atom)