Mau Pasang Iklan, Hub Biro Iklan, Aulia Advertising, Telp 0813 8468 1151
Aulia PROPERTY,MEMASARKAN BALE PERIGI, PURI SINAR PAMULANG, PESONA ALAM CIPUTAT, CLUSTER Tsb Ready Stock Telp 081384681151

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 0856 7386 103, 0813 8468 1151

Jumat, 27 Mei 2016

MUI Imbau Selama Ramadan Kedai Makan Tutup di Siang Hari

PADANG - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar), Gusrizal Gazhar mengimbau, selama ramadan, penjual makanan menutup kedai makanan mereka pada siang hari.
"Diharapkan tidak ada lagu yang bandel, baik itu muslim ataupun non muslim. Tentu jika tetap buka tidak sesuai falsafah," kata dia, Jumat (27/5/2016).
Gusrizal mengatakan, perilaku tidak patuh itu tidak seharusnya diteruskan. Jika terus dilaksanakan, hal itu termasuk pembangkangan. "Sebagai pemeluk agama Islam, mereka tidak ada malu dan tidak punya kepedulian sebagai penduduk setempat," ujarnya.
Ia menilai, seharusnya masyarakat setempat tidak sulit untuk menaati imbauan menutup kedai makanan di siang hari itu karena juga sudah ada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
"Diharapkan nilai-nilai berlandaskan syariat itu ditunjukan tidak hanya di ranah pribadi, melainkan juga di publik," katanya.
Selain itu, ia berharap pemerintah setempat bertindak tegas jika masih ada kedai makanan yang buka di siang hari selama Ramadan, jangan sampai terjadi pembiaran.
(fds)

Kamis, 26 Mei 2016

Empat Kunci Zuhud Imam Hasan al-Bashri





Di tengah-tengah kehidupan yang serba profan dan materialis kini, zuhud barangkali sudah menjadi kata yang asing dan aneh bagi kebanyakan orang, bahkan mungkin bagi sebagian pengemban dakwah. Bagi orang kaya yang biasa bergelimang harta dan kemewahan, hidup zuhud tentu terasa aneh. Bagi orang miskin, hidup zuhud (baca: miskin) tentu amat dibenci. Tentu demikian jika zuhud diidentikan dengan kefakiran atau kemiskinan.
Padahal zuhud tidaklah identik dengan hidup fakir atau miskin. “Zuhud itu bukan berarti miskin harta. Zuhud tidak lain mengosongkan kalbu dari (kecintaan) terhadap harta. Nabi Sulaiman as. sesungguhnya orang yang kaya harta dengan kebesaran kerajaannya, tetapi ia termasuk orang zuhud,” demikian kata Imam al-Ghazali (Al-Ghazali, Ihya ’Ulum ad-Din, I/29).
Karena itu, zuhud sebetulnya bisa menjadi pakaian sekaligus perhiasan setiap Muslim, baik yang kaya ataupun yang miskin. Muslim yang kaya bisa sekaligus menjadi orang zuhud saat ia tidak disibukkan oleh kekayaannya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Kekayaannya malah makin menambah ketaatan dirinya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia makin rajin ibadah, makin giat berdakwah, makin bersemangat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT. Inilah yang ditunjukkan oleh generasi sahabat yang tergolong kaya seperti Abu Bakar ra., Umar bin al-Khaththab ra., Utsman bin Affan ra., Abdurrahman bin Auf ra., Mushab bin Umair ra., dll. Meski mereka kaya-raya, mereka tetaplah ahli ibadah dan giat berdakwah. Meski kaya-raya, mereka tidaklah disibukkan untuk terus menumpuk harta. Sebaliknya, mereka malah sibuk menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT. Pasalnya, bagi mereka, hidup kaya tidaklah menjadikan mereka bangga. Mereka bahkan amat khawatir dengan kekayaan mereka; khawatir jika Allah SWT telah menurunkan seluruh kenikmatan kepada mereka itu di dunia ini saja sehingga tak tersisa lagi kenikmatan untuk mereka di akhirat. Inilah yang menjadikan mereka ’takut’ dengan bertumpuknya harta sehingga dengan berbagai cara, mereka menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT.
Orang miskin pun bisa menjadi orang zuhud saat ia tidak ’disibukkan’ dengan kemiskinannya. Kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk taat beribadah dan giat berdakwah. Bahkan meski miskin, ia tetap berusaha untuk bersedekah; mungkin bukan dengan hartanya, tetapi dengan tenaganya, akal-pikirannya, atau sekadar dengan senyumnya kepada sesama.
Sebaliknya, orang kaya atau miskin bisa jadi sama-sama dihinggapi oleh penyakit hubb ad-dunya’ (kecintaan terhadap dunia)—sesuatu yang tentu berlawanan dengan sikap zuhud. Tentu buruk orang kaya yang mengidap penyakit hubb ad-dunya’ sehingga memalingkan dirinya dari ketaatan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, lebih buruk lagi jika orang miskin mengidap penyakit yang sama. Sudahlah miskin di dunia, ia tak mau beribadah. Sudahlah hidup susah, ia malas berdakwah. Sayangnya, golongan yang terakhir ini pun banyak jumlahnya.
*****
Muslim yang zuhud tentu memiliki sejumlah tanda yang bisa dikenali. Imam al-Ghazali setidaknya menyebut 3 (tiga) tanda zuhud (‘alamat az-zuhd). Pertama: tidak bergembira atas harta yang dia miliki dan tidak bersedih hati atas harta yang tidak dia miliki atau yang hilang dari diri. Ini sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): …agar kalian tidak berduka atas apa yang hilang dari diri kalian dan tidak terlalu bergembira atas apa Allah berikan kepada kalian (TQS al-Hadid [57]: 23). Kedua: Sama saja bagi dirinya pujian dan celaan manusia (Pujian tidak membuat dirinya bergembira. Celaan tidak membuat dirinya duka-lara). Ketiga: Perhatian terbesarnya hanyalah Allah SWT. Ia senantiasa merasakan kelezatan dalam ketaatan kepada Allah SWT karena kalbunya memang tidak pernah kosong dari rasa cinta (mahabbah) kepada-Nya (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, III/333).
Bagi seorang Muslim, termasuk pengemban dakwah sekalipun, memang tidaklah mudah menjadi orang zuhud di tengah kepungan atmosfir kehidupan yang materialistis dan godaan dunia yang makin hedonis saat ini. Namun demikian, Imam Hasan al-Bashri telah memberikan kepada kita ‘kunci zuhud’.
Pertama: Selalu yakin bahwa rezeki kita tak mungkin diambil orang lain sehingga hati kita selalu merasa tenang. Keyakinan seperti ini paling tidak akan melahirkan dua sikap: (1) Tawakal, tentu dibarengi dengan usaha mencari rezeki secara optimal; (2) Tidak tamak dan rakus terhadap harta, apalagi terlalu ambisius mengejar kekayaan hingga sering melalaikan kewajiban, misalnya kewajiban berdakwah.
Kedua: Selalu yakin bahwa amal kita tak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Keyakinan ini akan selalu menyibukkan diri kita untuk terus beramal tak kenal lelah, termasuk amal dakwah. Dengan itu tak mungkin, misalnya, kita berdakwah karena disuruh-suruh oleh orang lain; sementara jika tidak disuruh, kita tak berdakwah.
Ketiga: Selalu yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi kita. Keyakinan ini akan menjadikan kita selalu hati-hati dan waspada dari segala perbuatan dosa. Bahkan kita malu untuk berbuat dosa meski dosa kecil sekalipun. Sebab, bagi seorang Muslim—sebagaimana dinyatakan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-‘Awliya’—masalahnya bukan kecilnya dosa, tetapi kepada siapa sesungguhnya ia berdosa. Tentu, dosa besar atau kecil, hakikatnya sama-sama merupakan maksiat kepada Allah SWT.
Keempat: Selalu yakin bahwa kematian adalah suatu kepastian. Keyakinan ini akan mendorong kita untuk terus mempersiapkan bekal demi menghadap kepada Allah SWT pada Hari Akhir nanti.
*****
Zuhud sekilas tampak sebagai perkara sepele. Namun jika kita renungkan, zuhud sebetulnya menyimpan energi positif yang luar biasa bagi seorang Muslim. Seorang Muslim yang zuhud, misalnya, akan senantiasa bersemangat dalam beribadah, antusias dalam bersedekah, dan giat dalam berdakwah. Sebab, urusan dunia bagi dirinya bukan lagi menjadi fokus utama. Fokus utamanya adalah urusan akhirat, juga urusan umat.
Sebaliknya, cinta dunia—sebagai lawan dari sikap zuhud—juga menyimpan energi luar biasa bagi seorang Muslim; tentu bukan energi positif, tetapi energi negatif: energi yang justru bisa mematikan hati (Lihat: Ibn ’Ajibah, Iqazh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, I/63). Jika hati sudah mati, ibadah tak lagi terasa sedap; sedekah tak lagi terasa lezat; dakwah pun tak lagi terasa nikmat, malah mungkin terasa berat. Na’udzu bilLah min dzalik!
Wama tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

MADRASAH UJIAN SEPANJANG HAYAT

MADRASAH UJIAN SEPANJANG HAYAT
Hadist dibawah ini menjelaskan bahwa ujian akan terus menghampiri seorang mukmin –dalam riwayat lain seorang hamba- selama ia masih bernafas.
Bahkan hidup dan mati itu sendiri merupakan ujian untuk mengetahui siapa hamba yang paling baik amalnya (QS al-Mulk [67]: 2).
« لاَ يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوِ الْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِـهِ وَفِى مَالِهِ وَفِى وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ »
Ujian akan terus menghampiri orang mukmin dan mukminah pada diri, anak dan hartanya, hingga ia menjumpai Allah dan tidak ada kesalahan yang harus dia tanggung (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi, Abu Ya’la dan al-Bukhari di al-Adab al-Mufrad)
Balâ’ secara bahasa artinya imtihân wa al-ikhtibâr (ujian dan cobaan). 
Dan menurut Ibn al-Atsir dan lainnya balâ’ itu terjadi dalam kebaikan (khayr) dan keburukan (syarr). Maka makna hadis tersebut adalah bahwa ujian dan cobaan dalam bentuk kebaikan (khayr) dan keburukan (syarr) akan terus menimpa mukmin dan mukminah atau hamba pada umumnya. Allah pun menegaskan hal itu dalam firmanNya:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
(QS al-Anbiyâ’ [21]: 35)
Ujian dan cobaan (balâ’) dapat berupa kebaikan ataupun keburukan, kenikmatan maupun musibah. Kita harus senantiasa sadar akan hal ini. Umumnya, orang menilai ujian dan cobaan itu berupa keburukan atau musibah. Sebaliknya jarang sekali kenikmatan dan sesuatu yang baik dinilai sebagai ujian. Namun nash-nash syara’ menjelaskan bahwa semuanya merupakan ujian untuk menguji apakah kita bisa sabar saat menghadapi musibah dan bersyukur saat mendapat kenikmatan dan kebaikan.Dan apakah kita tetap istiqamah di jalanNya dalam dua keadaan itu.
Kesenangan yang kita dapatkan merupakan ujian apakah kita menjadi orang yang bersyukur atau tidak. Tidak jarang orang lulus ketika diuji dengan musibah dan kesusahan, namun ia gagal saat diuji dengan kenikmatan dan kesenangan. Kesadaran bahwa kesenangan itu merupakan ujian akan menuntun kita untuk tetap terjaga dan tidak terlena dengan kenikmatan itu lantas kehilangan keistiqamahan dan terjebak menikmati kesenangan itu.
Sebaliknya saat musibah atau keburukan menimpa, itu juga merupakan ujian apakah kita bersabar menghadapinya dan ridha menerimanya ataukah tidak. Jika kita mampu bersabar maka itu adalah kebaikan yang luas. Karena setiap musibah sekecil apapun yang menimpa, jika kita hadapi dengan kesabaran maka itu bisa menggugurkan dosa dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah. Rasulullah saw pernah bersabda:
« لاَ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً »
Tidaklah sebuah duri mengenai seorang muslim atau lebih dari itu kecuali dengannya Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan (HR Tirmidzi, Muslim, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi)
Dalam riwayat lainnya dikatakan: “niscaya dengan musibah itu Allah mencatat satu kebaikan baginya”. Yaitu pahala atas keridhaannya terhadap qadha, kesabarannya, dan bersyukur serta hanya mengadukan musibahnya kepada Allah SWT.
Karenanya bagi orang mukmin, semuanya akan menjadi kebaikan. Rasulullah saw bersabda:
« عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »
Menakjubkan perkara seorang mukmin itu, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan. Hal itu tidak menjadi milik seorangpun kecuali orang mukmin.Jika mendapat kesenangan ia bersyukur maka itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar maka itu merupakan kebaikan baginya (HR Ahmad, Muslim, ad-Darimi, Ibn Hibban dan al-Baihaqi)
Hendaklah kita sadar sepenuhnya, bahwa kedudukan, kecukupan harta, dan berbagai kesenangan lainnya adalah ujian. Semoga kita tak lupa bersyukur dan tetap istiqamah di jalan Allah, tidak terlena dengan kesenangan itu.
Hendaknya kita juga selalu sadar bahwa kesusahan, musibah dan berbagai ketidaksenangan yang menimpa merupakan ujian. Hendaknya kita berusaha untuk sabar karena Rasulullah saw pernah bersabda:
« … وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ »
Siapa yang berusaha untuk sabar niscaya Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Tidaklah seorangpun diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran 
(HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, at-Tirmidzi dan ad-Darimi) Allâhumma ij’alnâ min asy-syâkirîn wa ash-shâbirîn.