Mau Pasang Iklan, Hub Biro Iklan, Aulia Advertising, Telp 0813 8468 1151
Aulia PROPERTY,MEMASARKAN BALE PERIGI, PURI SINAR PAMULANG, PESONA ALAM CIPUTAT, CLUSTER Tsb Ready Stock Telp 081384681151

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus

Menyelenggarakan Umrah Dan Haji Plus
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 0856 7386 103, 0813 8468 1151

Minggu, 24 Desember 2017

Kronologis kata "AHAD" diganti "MINGGU

Kronologis kata "AHAD" diganti "MINGGU

Alkisah; Sebelum Tahun 1960, tak pernah dijumpai nama hari yg bertuliskan "MINGGU" selalu tertulis hari "AHAD".

Begitu juga penanggalan di kalender tempo dulu,

 masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan "Minggu".
Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa dan terbudaya utk menyebut hari "AHAD" di dalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yg cukup lama.

- Bahkan telah menjadi ketetapan di dalam Bahasa Indonesia.

- Lalu mengapa kini sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu?

- Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya?

- Apa dasarnya ?

- Resmikah dan ada kesepakatankah?

Kita ketahui bersama bahwa nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum ke dalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu adalah dgn sebutan :

1. "Ahad" (al-Ahad = hari kesatu),

2. "Senin" (al-Itsnayn=hari kedua),

3. "Selasa" (al-Tsalaatsa' = hari ketiga)

4. "Rabu" (al-Arba'aa = hari keempat),

5. "Kamis" (al-Khamsatun = hari kelima),

6. "Jum'at" (al-Jumu'ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah),

7. "Sabtu" (as-Sabat=hari ketujuh).

Nama hari tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terpola di dalam semua kerajaan di Indonesia.

- Semua ini adalah karena jasa positif interaksi budaya secara elegan dan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab.

Sedangkan kata "MINGGU" diambil dari bahasa Portugis, "Domingo" (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti "Dia Do Senhor", atau "HARI TUHAN KITA").

=> Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini dieja sebagai "Dominggu" dan baru sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai "Minggu".

Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud "TUHAN KITA", bagi yg beribadah di hari minggu.

Bagaimana ini bisa terjadi?

- Ada yang mengatakan dengan dana yang cukup besar dari luar Indonesia, dibuat membiayai monopoli pencetakan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia.

- Percetakan dibayar agar menihilkan (0) kata "AHAD" diganti dengan "MINGGU".

- Setetah kalender jadi, lalu dibagikan secara gratis atau dijual obral (sangat murah).
Dampaknya adalah:

- Masyarakat Indonesia secara tak sadar, akhirnya kata Ahad telah terganti menjadi Minggu di dalam penanggalan Indonesia.

Pentingkah?
Jawabannya :

"SANGAT PENTING" untuk upaya mengembalikan kata "Ahad" .

Bagi umat Islam adalah penting, karena :

- Kata "Ahad" mengingatkan kepada nama "Allah عزوجل " yg Maha "Ahad" sama dengan "MahaTunggal"/ "Maha Satu" / "Maha Esa".

- "Allah" tidak beranak dan tidak diperanakkan

- Kata "Ahad" dalam Islam adalah sebagai bagian sifat "Allah عزوجل " yang penting dan mengandung makna utuh melambangkan "ke-Maha-Esa-an Allah عزوجل ".

Oleh karena itu :

- Mari kita ganti "MINGGU" menjadi "AHAD".

- Apabila dalam 7 (tujuh) hari biasa disebut "SEMINGGU", yang tepat adalah disebut dengan "SEPEKAN", dan bukan "minggu depan", tapi "pekan depan".

Semoga hari ini penuh berkah buat kita dan keluarga.

Amin Ya Robbal 'Alamin.

Share ke teman sebanyak-banyaknya,
Mari mulai sekarang kembalikanlah hari AHAD.

lupakanlah minggu. Mohon share di grup yang pesertanya hanya muslim. (By akhina fillah b s Ustadz Moh. Toha)

Link: http://bcwaw.blogspot.co.id/2017/12/kronologis-kata-ahad-diganti-minggu.html?m=1

AHMAD DHANI CUMA AWAL, GRAFIK AKAN TERUS NAIK, PANJI INI AKAN BERKIBAR LEBIH TINGGI. PERSIAPKAN DIRI KALIAN PARA 'KOMANDAN'

AHMAD DHANI CUMA AWAL, GRAFIK AKAN TERUS NAIK, PANJI INI AKAN BERKIBAR LEBIH TINGGI. PERSIAPKAN DIRI KALIAN PARA 'KOMANDAN'

Oleh : Karim Indonesia

Sepanjang Tahun 2017, grafik kecintaan Umat Islam terhadap Syariah dan Khilafah, berikut juga Panji Rasulullah, bukannya menurun. Bahkan, setelah persekusi terhadap gagasan Khilafah oleh Rezim Diktator, dan persekusi terhadap Panji Rasulullah oleh centeng-centengnya, grafik itu terus naik.

Berawal dari momentum kemunculan Panji Rasulullah (Ar Rayah) Raksasa pada Aksi Bela Islam 212 Tahun 2016 lalu.

Lalu dilanjutkan dengan bangkitnya para pendaki pecinta Ar Rayah, yang mengibarkan Ar Rayah di puncak-puncak gunung tertinggi Indonesia mulai Januari 2017 hingga akhir-akhir ini.

Lalu adanya aksi nasional Masirah Panji Rasulullah (Mapara) yang digagas oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Berupa sosialisasi Ar Rayah yang dilakukan di sejumlah tempat di Indonesia.

Setelah HTI dibubarkan paksa Rezim Diktator dan Ar Rayah dipersekusi dengan label fitnah Bendera HTI, bukannya menurun, grafik kecintaan tersebut terus mengalami kenaikan. Skenario rezim untuk membodohi Umat Islam menjadi blunder besar. Bukannya redup, seruan Syariah dan Khilafah terus menggema, berikut berkibarnya Ar Rayah.

Pada aksi menolak Perppu Ormas 24/10 lalu, sebanyak 9 Ar Rayah Raksasa dikibarkan oleh Umat Islam dari berbagai ormas.

Pada Reuni Akbar 212 lalu, 20 Ar Rayah Raksasa dibentangkan dan 5 di antaranya diestafetkan oleh jutaan Umat Islam.

Berpikir semuanya telah usai? Bahkan pada saat Menteri Agama Pembela LGBT manggung pada Aksi Bela Palestina 17/12 lalu, Al Liwa Raksasa dan Ar Rayah Raksasa berkibar-kibar dengan gagah. Dan masih, Umat Islam pula yang membentangkan dan mengestafetkan.

Pada penghujung tahun ini, musisi nasional Ahmad Dhani juga turut mempopulerkan Ar Rayah dalam video clipnya yang berjudul Iman.

Lalu saya mau bertanya sama kamu. Iya kamu, yang masih suka bilang Ar Rayah itu Bendera HTI.

Apakah jutaan Umat Islam pada Reuni Akbar 212 itu Anggota HTI semua?

Apakah jutaan Umat Islam pada Aksi Bela Palestina 17/12 yang minta Menag Pembela LGBT turun dari panggung juga itu Anggota HTI semua?

Apakah pendaki-pendaki pengibar Ar Rayah itu Anggota HTI semua?

Apakah aparat TNI dan Polri yang selfie pakai Ar Rayah itu juga Anggota HTI semua?

Lalu apakah Ahmad Dhani dan seluruh model yang mengibarkan Ar Rayah pada video clip nya itu juga Anggota HTI semua?

Anda Mau Jawab Iya? Maka Anda Mesti Berhati Hati Terhadap Anggota HTI. Sebab Mungkin Juga Anda Suatu Saat Akan Jatuh Hati. Karena Mereka Sudah Masuk Ke Semua Lini.

Anda Mau Jawab Bukan? Anda Mesti Lebih Berhati Hati Lagi. Berarti Pendukung HTI Itu Banyak. Kecuali Mungkin Pendukung Rezim Diktator dan LGBT Yang Setengah Mati Mau Meredupkan HTI.

Lalu Anda Mau Jawab Itu Bukan Bendera HTI? Lalu Bendera Apa Donk? Bendera Bajak Laut? Bendera ISIS?

Untuk Yang Entah Berapa Juta Kali Kami Sampaikan.

Dari Ibnu ‘abbas Ra Menuturkan, "Rayah Rasulullah Saw. Berwarna Hitam Dan Liwa’ Beliau Berwarna Putih."
(HR At-tirmidzi, Al-baihaqi, Ath-thabarani Dan Abu Ya’la).

Dari Ibnu Abbas Ra. Menuturkan, "Rayah Rasulullah Saw. Berwarna Hitam Dan Liwa’ Beliau Berwarna Putih; Tertulis Di Situ Lâ Ilâha Illa Allâh Muhammad Rasûlullâh."
(HR Abu Syaikh Al-ashbahani).

TAHUN 2018, GRAFIK MESTI TERUS NAIK

Bertolak dari realitas di atas. Maka tidak ada alasan untuk mengendurkan perjuangan dan menurunkan Ar Rayah setengah tiang.

Opini Syariah dan Khilafah mesti tetap berkobar. Ar Rayah masih mesti berkibar. Bukannya makin rendah, tapi makin tinggi. Ke bulan kalau perlu. Mungkin setelah Khilafah tegak nanti.

Proposal Kami Untuk Tahun 2018. Ar Rayah Mesti Dikibarkan Lebih Tinggi. Di Puncak Tertinggi Indonesia. Di Salah Satu Puncak Gunung Tertinggi Dunia.

Puncak Jaya, Carstensz Pyramid 4.884 MDPL.

Pengibaran Yang Akan Menjadi Opini Nasional Dan Internasional.

Pengibaran Yang Akan Memicu Gelombang Pengibaran Di 6 Puncak Tertinggi Dunia Lainnya.

Pengibaran Yang Akan Membangkitkan Semangat Dan Moral Para Pemuda Pencinta Panji Rasulullah.

Pengibaran Yang Akan Menggetarkan Nyali Musuh Musuh Islam, Para Pendengki.

Dan Tidak Seperti Pengibaran Ar Rayah Di Bulan Yang Hanya Mungkin Dilakukan Oleh Khilafah Nanti. Pengibaran Ar Rayah Di Puncak Jaya Bisa Dilakukan Dan Diinisiasi Sejak Saat Ini.

Tidak Harus Kami, Boleh Anda, Bisa Siapa Saja

- Dari Komunitas Kecil Yang Bermimpi Laksana Bagai Khalid Bin Walid. Seorang 'Jenderal' Yang Tak Pernah Gagal -

23/12/2017

Dialog Kyai Dan Pendeta Tentang Tahun Baru Masehi.

 Dialog Kyai Dan Pendeta Tentang Tahun Baru Masehi.

Oleh :

KH. DR. Tb. Abdurrahman Anwar Al Bantany.
(Wakil Ketua Dewan Fatwa DPP Tarbiyah PERTI Dan Ketua Badan Nasab Kesulthanan Banten BNKB)

Pak Kyai: Maaf Pak Pendeta, sebentar lagi 1 January Tahun Baru Masehi akan segera tiba, apa yang dilakukan oleh umat Kristen pada malam tahun baru 1 Januari tersebut?

Pendeta: Kami di malam tahun baru tersebut tidak ada kegiatan yang istimewa, ya seperti biasa malamnya jam 19.00 sampai jam 20.00 mengadakan kebaktian di Gereja masing-masing lalu pulang, Dan paginya jam 07.00 sampai jam 09.00 ke Gereja kembali. Itu saja kegiatan kami.

Pak Kyai: Oh jadi itu saja ya gak ada aktifitas yang istimewa.

Pendeta: Iya itu saja.

Pak Kyai: Apakah dari umat Kristiani tidak ada yang turun ke jalan untuk memeriahkan tahun baru anda?

Pendeta: Tidak ada.

Pak Kyai: Kenapa mereka tidak turun ke jalan memeriahkan tahun barunya?

Pendeta: Lah buat apa kami turun kejalan, tanpa kami turun ke jalan juga umat Islam sudah memeriahkan tahun baru kami ko.

Pak Kyai: Maksudnya bagaimana?

Pendeta: Iya kami tidak perlu turun ke jalan karena kami sangat menghaturkan terimakasih kepada umat Islam yang telah memeriahkan dan meramaikan Tahun Baru kami.

Coba Pak Kyai lihat saat tahun baru kami tiba, yang dagang petasan umat Islam, yang beli petasan umat Islam, yang bakar petasan umat Islam untuk merayakan Tahun Baru kami.

Yang dagang terompet umat Islam, yang beli terompet umat Islam dan yang meniup terompet umat Islam demi memeriahkan tahun baru kami.

Yang dagang kembang api umat Islam, yang beli kembang api umat Islam dan yang membakar kembang api umat Islam untuk memeriahkan tahun baru kami.

Umat Islam berbondong-bondong ke ancol, ke TMII, ke puncak dan tempat tempat hiburan, jalan-jalan tumpah ruah penuh dan macet dalam rangka memeriahkan tahun baru kami.

Jadi buat apa kami turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami, tanpa kami turun kejalan umat Islam sudah turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami. Terimakasih Pak Kyai sampaikan kepada umat Islam yang telah turut serta memeriahkan tahun baru kami.

Pak Kyai: Oooh gitu ya, iya nanti kami sampaikan ke umat Islam bahwa orang-orang kristen sangat berterimaksih kepada umat Islam yang telah meramaikan Tahun Baru Masehi 1 Januari.

Coba kita renungkan dialog antara Kyai dan Pendeta tersebut, apakah kita umat Islam dari tahun ke tahun akan terus terusan meramaikan dan memeriahkan Tahun Baru Masehi tersebut padahal orang kristen tidak ada yang turun ke jalan.
[09:25, 12/25/2017] +62 852-1063-4118: